“Ini momentum bangkitnya para penjahit usai pandemi,” ungkap Murni Alfiah, salah satu penjahit asal Desa Gejagan, Loceret. Perempuan 27 tahun itu merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan purnawiyata mulai populer di Kota Angin sejak dua tahun terakhir.
Perempuan yang kerap disapa Murni itu sempat kewalahan mengerjakan orderan pakaian untuk purnawiyata. Kepada Jawa Pos Radar Nganjuk, dia mengaku sempat lembur untuk menyelesaikan pesanan pelanggannya. Saat pekerjaan menumpuk, dia cukup tidur lima jam saja.
Diakui Murni, order yang masuk ke tempatnya dalam waktu satu bulan bisa mendapat 50 pesanan. Semua pakaian itu digunakan khusus untuk purnawiyata lulusan SMP, SMA, dan SMK.
Lulusan SMKN 1 Bagor itu mengaku, bila satu siswa bisa pesan sampai lima setel. Minimal satu orang memesan dua setel. "Pesanan pakaian itu untuk satu keluarga," katanya.
Karena membludaknya pemesanan, ia harus menyelesaikannya sesuai deadline yang dari pelanggannya. Lulusan sekolah kejuruan jurusan tata busana mengaku tidak pernah menolak pesanan dari pelanggan. Agar hasilnya bisa maksimal dan tepat waktu dia mengajak dua orang untuk membantunya menyelesaikan jahitannya. "Keduanya bekerja sebagai freelance," akunya.
Banjirnya order itu membuat pundi-pundi uang yang dihasilkan dari menjahit juga meningkat. Jika satu setel seragam dibanderol dengan harga Rp 130 ribu sampai Rp 140 ribu. Omzetnya bisa semakin meningkat bila pelanggan memesan kebaya. Sebab harga kebaya beda dengan seragam biasa.
Perempuan yang saat itu mengenakan jilbab krem itu menjelaskan, untuk kebaya harganya menyesuaikan model dan payit atau pernak-pernik pakaiannya. Jika permintaan payitnya susah maka harganya akan semakin mahal. “Kalau kebaya berkisar Rp 200 ribu–Rp 500 ribu per stel,” ucapnya saat ditemui di tempat kerjanya pada Kamis (8/6) lalu. Dan saat ini, pesanan yang mendominasi adalah kebaya.
Jika disuruh memilih, Murni lebih suka mengerjakan kebaya. Menjahit kebaya adalah keahlian utamanya. “Basic saya memang kebaya,” ungkapnya. Sementara itu, alasan para pelanggan lebih suka datang ke penjahit karena kualitasnya lebih baik.
Seperti yang diungkapkan Inayah, salah satu pelanggan mengatakan, jika beli jadi banyak yang tidak sesuai dengan harapannya. Selain kualitas kain, ukuran pakaian juga menjadi masalah jika beli pakaian jadi. “Kalau beli pesan di sini (penjahit, Red) hasilnya sesuai dengan keinginan kita. Lebih nyaman dipakai dan tahan lama,” ujarnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah