“Tanah di sini cocok untuk tanaman cengkih,” kata Shiren, petani muda asal Desa Bareng, Kecamatan Sawahan. Itu sebabnya, cengkih di desanya semakin banyak. Hampir setiap rumah di desanya ada tanaman cengkihnya.
Pemuda 35 tahun itu menceritakan alasan warga di desanya memilih tanaman cengkih karena semua yang ada pada tanaman itu bisa diuangkan. Mulai dari daun, tangkai buah, dan buahnya. Semuanya laku dijual.
Meski panenan buahnya setahun sekali, para petani cengkih tetap bisa mendapatkan uang dari menjual daunnya yang sudah kering. Harganya sekitar Rp 2 ribu per kilogram. Biasanya dijual satu minggu sekali.
Semakin banyak pohon cengkihnya maka peluang untuk mengumpulkan uang dari daunnya juga semakin besar. Dari penjualan daunnya saja bisa membuat para petani tersenyum. Satu pohon yang sudah berbuah bisa menghasilkan daun sebanyak satu kilogram.
Dalam waktu seminggu, satu pohon bisa mendapat pemasukan sebesar Rp 14 ribu. Daun dari pohon cengkih ini bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari mereka.
Senyum para petani itu semakin lebar ketika harga melonjak seperti sekarang. Harga satu kilogram cengkih kering sudah tembus Rp 140 ribu. Angka yang cukup fantastis untuk petani cengkih.
Tidak sedikit masyarakat di desanya bisa membangun rumah dari hasil penjualan cengkih. “Ada juga yang beli motor dan mobil,” aku Shiren. Untuk dapat hasil yang istimewa seperti itu tanaman pohon cengkihnya juga harus lebih banyak.
Menurut Shiren jumlah pohon cengkih yang dimiliki harus lebih dari 20 batang. Jika punya lahan yang luas, pohon cengkih cukup menjanjikan bagi para petani di kawasan lereng Wilis.
Hal itu diakui pula oleh Yusuf, 35, asal Desa Blongko, Kecamatan Ngetos. Tren untuk menanam cengkih di desanya juga mulai marak. Bahkan satu rumah di desanya minimal punya tujuh pohon cengkih. “Kebiasaan menabung cengkih di masyarakat desa saya masih terjaga,” katanya. Di Desa Blongko ada tradisi menabung cengkih kering.
Mereka biaanya menyimpan dalam karung yang diletakan di gudang rumah. Saat sedang membutuhkan uang tambahan untuk memenuhi ekonomi keluarga, cengkih itu akan dijual. Termasuk ketika harga sedang tinggi seperti sekarang, biasanya akan dijual untuk kebutuhan rumah tangga.
“Ya tabungannya akan dikeluarkan menyesuaikan kebutuhan,” tutupnya.
Harga Tinggi karena Permintaan Pabrik Rokok
Kawasan lereng Wilis di Ngetos dan Sawahan menjadi daerah pemasok kebutuhan rokok. Di awal panen seperti sekarang, permintaan yang tinggi menyebabkan harga ikut terkerek.
Melonjaknya harga cengkih kering hingga Rp 140 ribu per kilogram itu hampir menembus harga maksimal yang selama ini dipatok sebesar Rp 150 ribu. Alasan harga jual bisa meroket karena yang panen belum terlalu banyak. Sehingga barang yang tersedia masih minim sedangkan kebutuhannya banyak.
Menurut Jamini, 55, petani perempuan asal Desa Klodan, Kecamatan Ngetos, permintaan cengkih untuk dikirim ke pabrik rokok biasanya dimulai Juni hingga Agustus mendatang. “Saat ada permintaan dari pabrik hasil penjualannya bisa lebih banyak,” kata lalu tersenyum.
Uang yang didapat dari menjual cengkih kering bisa mencapai puluhan juta rupiah. “Sekali panen bisa dapat 2-3 kuintal (cengkih kering, Red),” akunya. Jika dikalikan dengan harga saat ini Rp 140 ribu per kilogram maka pendapatan Jumini bisa mencapai Rp 28 juta hingga Rp 42 juta setiap kali panen.
Alasan itulah yang membuat petani di kawasan lereng Wilis mulai melirik cengkih. Mereka yang dulunya banyak mengandalkan tanaman musiman seperti buah durian dan manga kini beralih ke cengkih. Seperti yang diutarakan Indarti, 41, warga Desa Blongko, Kecamatan Ngetos, sejak zaman eyangnya mayoritas warga di desanya adalah petani. “Sekarang, di sela-sela tanaman buah-buahan pasti juga ditanami cengkih,” katanya.
Meski hanya berbuah sekali setahun, mereka tetap bisa mendapatkan hasil dari menjual daunnya. Apalagi harga daun cengkih juga bisa mengalami harga sampai Rp 4 ribu per kilogram. Menurut Yusuf, 35, warga Desa Blongko, Ngetos harga daun bisa naik jika harga minyaknya ikut naik.
“Tergantung juga kadar airnya,” ucapnya. Sejauh ini, daun-daun cengkih yang ada di desanya lebih banyak disetor di Kecamatan Sawahan untuk dilakukan penyulingan. Hingga kini, pengolahan minyak daun cengkih ini belum tersentral di satu lokasi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah