Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Apa Itu Sirat Brambang? Ini Kata Petani Brambang Asal Sukomoro

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 7 Juni 2023 | 17:53 WIB
(Foto: Oktavia Rahajeng)
(Foto: Oktavia Rahajeng)
Setelah menyediakan cemplongan atau kalenan untuk pengairan, petani brambang masih punya tugas lagi. Yaitu, menyirami tanaman brambang. Tidak bisa dilakukan dengan mesin. Namun, harus manual. Air yang disiram tidak boleh terlalu banyak atau terlalu sedikit.

10 hari pertama setelah brambang ditanam adalah waktu yang rawan. Brambang butuh air yang cukup. Tidak boleh kurang. Bisa mati jika kurang air. Bisa busuk juga kalau kebanyakan air.

Karena itu, petani harus menyirami tanaman brambang dengan cara manual. "Sirat brambang namanya untuk aktivitas menyirami tanaman brambang," ujar Adi Winata, 40, petani brambang asal Desa Bungur, Kecamatan Sukomoro.

Sesuai dengan namanya yaitu sirat, maka petani hanya menggunakan timba atau ember plastik berukuran kecil. Air di kalenan diambil dengan timba atau ember plastik. Kemudian, disiratkan ke tanaman brambang ke kiri dan kanan. Agar merata sirat, petani harus berjalan menyusuri kalenan yang memiliki kedalaman sekitar 50 sentimeter. “Kalau usia awal sampai sepuluh hari, disirat setiap hari. Satu kali sehari, bisa pagi atau sore. Kalau pagi ya pagi saja, sore ya sore saja,” ujar Adi.

Mengapa menyiram tanaman tidak langsung menggunakan air yang  banyak seperti menyiram tanaman padi atau disiram dari atas? Adi menjelaskan, jika disiram dari atas langsung bisa rusak tanamannya. Sedangkan, jika disiram seperti tanaman padi hingga batangnya klelep akan membuat brambang busuk dan akhirnya mati.

“Menyiram tanaman brambang harus dilakoni dengan cepat namun pelan. Kalau disiram begitu saja dengan air satu ember dan disiramnya dari atas, daun brambangnya bisa patah,” sambung Purwanti, 44, petani brambang yang lain.

Petani wanita yang memiliki dua anak itu juga memberitahu bahwa tenaga siram mayoritas dilakukan oleh petani yang memiliki lahan. Jarang sampai menyewa tenaga petani lain. Karena biaya akan membengkak. Namun, jika lahannya luas maka mau tidak mau harus menyewa tukang sirat. Upahnya sekitar Rp 40 ribu sampai Rp 70 ribu sehari. Jam kerjanya mulai dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB. “Untuk lahan 100 Ru (1 Ru=14 meter persegi) mayoritas bisa dikerjakan satu orang saja sehari,” tambahnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#petani brambang nganjuk #brambang nganjuk #petani brambang #brambang #radar nganjuk