“Bauji sudah teruji saat musim hujan,” ujar Abdul Rokhim, 42, petani brambang asal Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro. Meski brambang Thailand Nganjuk (Tajuk) bisa hidup di musim kemarau dan hujan tetapi risikonya saat besar jika curah hujan tinggi. Serangan hama dan penyakit pada Tajuk akan lebih banyak. Salah satunya adalah moler.
Untuk itu, Rokhim memilih menanam benih bibit brambang Bauji saat musim kemarau. Karena Bauji dianggap lebih kuat menghadapi serangan hama dan penyakit saat musim hujan.
Walaupun produktivitas Bauji kalah dengan Tajuk tetapi Rokhim memilih aman. Jika Tajuk satu hektare bisa menghasilkan sekitar 20 ton brambang, tidak dengan Bauji. Satu hektare lahan hanya mampu menghasilkan sekitar 17 ton brambang Bauji. Namun demikian, Bauji tetap dipilih. Ini karena Rokhim khawatir rugi karena gagal panen jika dia memaksa memilih benih varietas yang lain.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Nganjuk Muslim Harsoyo melalui Kabid Produksi dan Perizinan Usaha Pertanian Agus Sulistiyono mengatakan, di Kabupaten Nganjuk, Bauji menjadi idola petani brambang saat musim hujan. Meski ada petani yang memilih menanam Tajuk saat musim hujan tetapi mayoritas beralih ke Bauji. “Bauji ini menjadi pilihan petani selain Tajuk,” ujarnya.
Agus mengatakan, sebenarnya, varietas brambang sangat banyak. Ada
Katumi, Pancasona, Super Philip, dan Trisula. Namun, petani Kota Angin sepertinya belum berani mencoba varietas yang lain. Ini karena biaya tanam dan perawatan brambang sangat besar. Jika gagal panen, petani akan mengalami kerugian yang besar. Karena itu, petani Nganjuk tetap memilih menanam benih bibit Tajuk saat kemarau dan Bauji ketika musim hujan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah