Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengintip Kawasan Bumi Perkemahan Desa Bajulan

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 22 Mei 2023 | 22:12 WIB
(Foto: Oktavia Rahajeng)
(Foto: Oktavia Rahajeng)
Dusun Plangkat, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret menyimpan potensi wisata alam yang indah. Aliran sungai yang jernih dan sejuknya kawasan bumi perkemahan menjadikan tempat itu ramai dikunjungi muda-mudi. Ada mitos larangan membakar ikan asin yang dipercaya warga secara turun temurun bisa menyebabkan petaka.

"Yang membuka warung di sini tidak pernah menyediakan menu ikan gerih (ikan asin, Red) yang dibakar," ujar Suyitno, penjual pentol dan tahu bakar di kawasan wisata. Pria 64 tahun asal Desa Genjeng, Loceret itu merupakan salah satu dari sepuluh pedagang yang buka lapak di lokasi wisata alam Dusun Plangkat, Desa Bajulan, Loceret.

Photo
Photo
(Foto: Oktavia Rahajeng)

Kepada Jawa Pos Radar Nganjuk, dia menceritakan terkait mitos larangan itu dipercayai warga setempat sejak ratusan tahun lalu. Konon larangan membakar ikan asin itu disebabkan karena aroma hasil bakaran ikan asin bisa mengundang amarah penunggu hutan di area Desa Bajulan.

Jika ada yang nekat membakar ikan asin di lokasi wisata tersebut, ada dua petaka besar yang akan terjadi. Pertama, warga percaya akan ada kesurupan massal. Terutama di kawasan bumi perkemahan. Lalu yang kedua, muncul angin kencang beberapa saat. Angin kencang bisa menyebabkan kerusakan pada bangunan yang ada di kawasan wisata.

Alasan itulah yang membuat Suyitno dan pedagang lainnya tidak pernah menyediakan menu makan ikan asin. Meski mitos itu terjadi sejak lama, larangan membakar ikan asin itu hanya berlaku di kawasan hutan. Larangan tersebut tidak berlaku di perkampungan. "Perlu dicatat, hanya membakar ikan gerih saja yang dilarang. Kalau dimasak pepes, tumis, atau digoreng itu boleh saja. Itupun hanya di kawasan alas-alasnya," ucap penjual pentol dan tahu bakar tersebut.

Photo
Photo
(Foto: Oktavia Rahajeng)

Lelaki yang sudah berjualan selama 5 tahun di kawasan wisata Dusun Plangkat itu mengaku, wisatawan yang datang adalah para penikmat kuliner. Mereka biasanya adalah wisatawan dari Air Terjun Rorokuning. Selain itu, kawasan wisata ini ramai jika ada kegiatan kemah. Sedangkan warga dari luar kota datang ke lokasi untuk mandi di air sungai yang masih jernih.

Para pengunjung yang datang ke lokasi tidak semuanya percaya dengan mitos yang ada di Dusun Plakat itu. Seperti Rahmad Husein, 22, pria asal Desa Loceret, Kecamatan Loceret, itu mengaku tidak percaya dan tidak mengetahui adanya mitos itu. "Saya tidak pernah dengar. Setahu saya boleh-boleh saya memasak ikan asin (termasuk dibakar, Red)," kata Rahmad. Jika pun masih ada warga yang percaya dengan mitos tersebut maka itu hanya jadi kearifan lokal saja.

Mitos di Dusun Plangkat, Desa Bajulan, Loceret itu berlaku pula di lokasi bumi perkemahan. Dulu sebelum pandemi Covid-19, wisata di sana selalu ramai karena ada kegiatan kemah anak-anak Pramuka.

Photo
Photo
(Foto: Oktavia Rahajeng)

Sebelum menempati bumi perkemahan, anak-anak Pramuka biasanya meminta izin warga. Samini, 43, warga setempat mengatakan, setiap peserta diberi tahu tentang kearifan lokal di desa mereka. Seperti wajib mengetahui tentang mitos di lokasi berkemah. Mereka diwanti-wanti agar tidak melakukan pantangan yang ada di sana. "Pasti selalu diingatkan, tidak boleh membakar ikan asin," katanya.

Setelah menyampaikan larangan tersebut, warga sudah tidak lagi ikut campur tentang kegiatan anak-anak Pramuka. Samini pernah mendengar cerita bila ada peserta kemah yang kesurupan. Jumlah yang kesurupan tidak banyak, hanya satu atau dua orang saja. Peristiwa seperti itu lumrah terjadi saat berkemah. Dia tidak tahu apa yang dilakukan anak-anak itu saat berkemah.

Aktivitas kemah itu sudah tidak ada lagi sejak tiga tahun terakhir. Penyebabnya karena ada pembatasan kegiatan karena Covid-19. Tidak ada lagi aktivitas kemah membuat dagangan warga yang membuka lapak di sana menjadi sepi. Dari tiga warung yang ada hanya dua yang buka setiap hari. Sedangkan satu warung dibuka khusus pada akhir pekan dan hari libur saja.

“Sekarang sepi sekali. Dulu saat sering ada kemah, saya bisa buka 24 jam. Omset per hari bisa Rp 500 ribu bahkan lebih,” ujar Samini yang juga mendirikan warung di area Bumi Perkemahan.

Sekarang, perempuan yang rumahnya dekat dengan Bumi Perkemahan mengaku, maksimal omsetnya Rp 200 ribu per hari. Dia berharap, bumi perkemahan bisa difungsikan lagi. Setidaknya, bisa menarik kembali perhatian masyarakat dari luar. “Semoga segera digunakan lagi. Biar para penjual warung seperti saya ini tetap ada pemasukan. Dulu saat bumi perkemahan masih digunakan, saya dan warga setempat pun juga membuka jasa kamar mandi. Dulu per orang bayar Rp 2 ribu sekali pakai,” ungkapnya.

Terpisah, Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Sopingi juga menanggapi terkait dengan aktivitas kemah di Dusun Plangkat, Desa Bajulan, Loceret. “Ya saya berharap nanti bumi perkemahan di Dusun Plangkat tetap digunakan. Minimal untuk kegiatan kecil-kecil gugus depan anak-anak pramuka. Kami perlu siapkan di rapat kerja (raker). Semoga tahun ini bisa kami gunakan lagi,” ujar Sopingi kepada. Menurut Sopingi, bumi perkemahan layak digunakan kembali untuk kegiatan anak pramuka. Karena masa pandemi Covid-19 memang sudah berakhir berdasarkan pemberitahuan dari World Health Organization (WHO). Terlebih lagi, bumi perkemahan di Kabupaten Nganjuk hanya ada dua. Selain di Dusun Plangkat, Desa Bajulan ada pula di Desa Sambikerep, Kecamatan Rejoso. Yang paling sering digunakan justru di Bumi Perkemahan di Dusun Plangkat, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita viral #berita terbaru #berita hari ini #wisata nganjuk #radar nganjuk