Menurut Haris, pemkab telah berusaha keras menyelesaikan pembangunan Pasar Kertosono agar bisa ditempati pedagang. Karena sejak Pasar Kertosono terbakar pada 1 Oktober 2017. Selama 5,5 tahun pedagang terpaksa berjualan di pasar darurat dan tepi jalan. Mereka juga mendesak pemkab segera menyelesaikan pembangunan pasar terbesar di wilayah timur Kota Angin tersebut. Namun, setelah bangunan lantai 1 diselesaikan, pedagang ogah menempati. Padahal, undian kios dan los telah dilakukan. “Pak Bupati Marhaen juga telah sosialisasi ke pedagang langsung pada 16 April 2023,” ujarnya.
Terkait persoalan ukuran los dan kios yang dianggap tidak sesuai standard, Haris mengatakan, hal itu terpaksa dilakukan. Keterbatasan dana membuat pemkab hanya bisa menyelesaikan lantai 1. Padahal, konsep awal Pasar Kertosono adalah tiga lantai. Bukan 1 lantai. “Nanti kalau sudah ada anggaran baru akan kami bangunkan los dan kios di lantai 2,” ujarnya.
Lalu bagaimana jika pedagang masih enggan pindah hingga akhir Mei? Haris memperkirakan hal itu tidak terjadi. Karena pedagang sebenarnya juga ingin pindah ke pasar baru. “Saya rasa mereka pasti akan mau pindah,” ujarnya.
Terpisah, sejumlah pedagang yang ditemui wartawan koran ini nekat memboikot karena tidak cocok dengan ukuran kios dan los di lantai 1 Pasar Kertosono. Ukuran los yang hanya 1 meter x 1,5 meter dianggap tidak cocok untuk berjualan pakaian, sandal, dan sepatu. “Itu ukuran untuk los pedagang daging dan ayam potong,” ujar Siti Rahmawati, 47, pedagang sayur asal Kecamatan Patianrowo.
Selain ukuran los yang sempit, keamanan barang dagangan juga kurang. Tidak ada tempat menyimpan barang dagangan saat ditinggal pulang membuat pedagang waswas.
Karena itu, setelah melihat langsung ukuran los, Siti dan pedagang sepakat untuk tidak pindah. Mereka memilih bertahan di pasar darurat dan tepi jalan. Karena meski kondisi tempat mereka berjualan ini hanya bersifat sementara atau darurat tetapi dianggap lebih representative. “Kami akan tetap bertahan di sini saja,” ujarnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah