Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Begini Perayaan Paskah di Gereja Tertua di Kabupaten Nganjuk

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 10 April 2023 | 20:52 WIB
(Foto: Karen Wibi)
(Foto: Karen Wibi)
Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Aditoya merupakan gereja tertua di Kota Angin. Gereja yang berada di Desa Jatigreges, Pace itu memiliki jemaat yang sangat taat. Tak terkecuali saat perayaan Paskah seperti kali ini. Seluruh jemaat di sana menyambutnya dengan suka cita. Salah satunya dengan menjaga tradisi menyalakan obor di depan rumah masing-masing jemaat.

Jemaat GKJW Aditoya memiliki tradisi unik saat memasuki Tri Hari Suci. Yakni dengan menyalakan obor di depan rumah masing-masing. Dipercaya, tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun sejak puluhan tahun silam. Bahkan, tidak menutup kemungkinan lebih lama lagi. Pasalnya, gereja yang berada di Desa Jatigreges ini telah ada sejak tahun 1880-an.

Tradisi menyalakan obor tersebut dilakukan di setiap rumah jemaat yang merupakan warga setempat. Mereka menyalakan obor tersebut sejak hari Kamis pada pekan suci Paskah. “Kebetulan, mayoritas warga Dusun Aditoya beragama Kristen,” ujar Pendeta GKJW Aditoya Wawuk Kristian Wijaya kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.

Umat kristiani di sana masih teguh memegang erat tradisi dan budaya tersebut. Mereka meyakini bahwa tradisi terebut harus terus dilestarikan oleh seluruh generasi penerus yang ada di sana. Sehingga, sampai kapan pun tidak akan terputus. Meski sudah berpindah generasi.

Photo
Photo
(Foto: Karen Wibi)

Selain sebagai bentuk kecintaan, tradisi tersebut juga memiliki makna yang dalam. Obor tersebut melambangkan umat kristiani harus mampu menjadi terang bagi sekitarnya. “Ada makna filosofis dari tradisi itu. Kita (umat kristiani, red) harus mampu menjadi terang,” tutur Wijaya.

Dengan pemasangan obor tersebut, suasana di Dusun Aditoya menjadi terasa syahdu. Dengan hiasan obor yang terpasang di depan rumah warga masing-masing. Sayangnya, hujan sering mengguyur kawasan tersebut. Sehingga warga menyiasatinya dengan mengganti obor dengan lampu. Namun, lampu yang digunakan tetap menyerupai obor.

Photo
Photo
(Foto: Karen Wibi)

Sementara itu, rangkaian pekan suci dimulai pada Minggu lalu (2/4). Kala itu, umat Kristen di GKJW Aditoya melakukan ibadah Minggu Palma. Ibadah tersebut dilakukan sebagai penanda jika selama seminggu ke depan, umat kristiani mulai memasuki ke pekan suci.

Selama pekan suci, jemaat GKJW Aditoya tidak hanya melakukan ibadah di dalam gereja. Karena jemaat disana memiliki banyak tradisi yang berbeda dengan umat kristiani pada umumnya. Seperti pada hari senin dan selasa, jemaat GKJW Aditoya melakukan kegiatan penataan saluran air.

Lalu pada hari rabu, para jemaat GKJW Aditoya melakukan kegiatan kerja bakti. Dalam kerja bakti itu, para jemaat akan membersihkan lingkungan dan makam di dusun tersebut. “Kebetulan mayoritas jemaat kami berasal dari dusun sini,” tandas Wijaya.

Pekan suci lalu dilanjutkan dengan ibadah Tri Hari Suci. Dimulai dengan ibadah Kamis Putih. Ibadah tersebut dilakukan di GKJW Aditoya pada Kamis sekitar pukul 18.00 WIB. Kemudian, keesokan harinya jemaat di sana melakukan ibadah Jumat Agung.

Photo
Photo
(Foto: Karen Wibi)

Puncak perayaan pekan suci Paskah ditutup hari ini, Minggu (9/4). Hari ini, umat kristiani merayakan Minggu Paskah. Untuk menyemarakkan perayaan tersebut, pihak gereja mengadakan kegiatan menghias telur. Kegiatan menghias telur sendiri menjadi budaya yang wajib ada ketika Minggu Paskah. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan oleh jemaat gereja yang masih anak-anak. Tak ayal, bocah-bocah di sana sangat antusias dengan momen tersebut.

“Acara menghias telur diadakan pada saat sekolah Minggu,” ujar Pendeta GKJW Aditoya Wawuk Kristian Wijaya kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin. Menghias telur sendiri memiliki sebuah filosofi bagi umat kristiani pada umumnya. Pasalnya, telur diartikan sebagai kehidupan baru. Hal tersebut dapat mengacu kebangkitan Isa Almasih pada hari ketiga setelah meninggal.

Kegiatan menghias telur Paskah tersebut menjadi salah satu momen yang dinanti-nanti jemaat di sana. Terutama mereka yang masih bocah. Pasalnya, hal ini selalu ditunggu setiap tahunnya. Tak ayal, kegembiraan dan antusiasme ditunjukkan oleh puluhan bocah di sana.

Seperti halnya Elizabet Kurnia, 6, salah seorang jemaat di GKJW Aditoya. Dia mengaku senang dengan kegiatan menghias telur yang biasa dilakukan di Minggu Paskah. Meski belum mahir dalam menghias telur, namun Eliza sangat antusias berkreasi bersama teman-teman sebayanya.

“Senang nanti dapat telur banyak,” aku Eliza sembari menunjukkan telur hasil hiasannya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita terkini #berita viral #berita terbaru #berita hari ini #radar nganjuk