Menurut Semi, setiap rumah memiliki ukuran lahan seluas 10 meter x 14 meter. Dengan luas bangunan 6 meter x 6 meter. Ada dua kamar, kamar mandi, dan ruang keluarga. Namun, jika warga ingin menambah bangunan sendiri masih memungkinkan. Karena ada sisa lahan. Hanya saja, biaya yang dikeluarkan harus ditanggung secara mandiri. “Yang punya rezeki, beberapa warga sudah menambah bangunan rumahnya,” ujarnya.
Berdasarkan pantauan koran ini, nampak beberapa pekerja sedang merampungkan renovasi rumah relokasi tersebut. Kebanyakan warga mengerjakannya sendiri. Sehingga, dapat menekan biaya pengeluaran untuk renovasi.
Mayoritas warga melakukan penambahan ruangan untuk dijadikan dapur. Seperti yang dilakukan oleh Yatemi, 56, salah seorang warga terdampak longsor di sana. Yatemi mengatakan, menambah bangunan dapur karena belum ada. “Seadanya dulu, nanti kalau ada rezeki bisa ditambahi lagi,” ujarnya.
Meski masih perlu beberapa penyempurnaan, namun Yatemi dan warga di sana mengaku sudah senang mendapatkan rumah relokasi. Karena mereka kembali dapat menempati rumah pribadi. Tidak lagi tinggal di rumah kontrakan seperti dua tahun terakhir ini.
Bahkan, Yatemi tidak mempermasalahkan harus tidur kruntelan dengan cucu-cucunya di satu kamar. Justru hal tersebut diakuinya menjadi lebih membuat mereka lebih erat lagi sebagai sebuah keluarga. “Yang penting bisa ngumpul dan tinggal di rumah sendiri rasanya sudah bahagia,” tuturnya.
Sementara itu, Plt Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengatakan, pemkab tidak melarang warga melakukan renovasi. Asalkan bangunan tidak melebihi luas tanah. Terutama, dalam urusan patok halaman. “Alhamdulillah sudah dapat ditempati dan dimanfaatkan. Apalagi sekarang momennya sedang puasa,” ujarnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah