Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengunjungi Sentra Bakso dan Tahu Bakar di Desa Banjaranyar, Tanjunganom

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 3 April 2023 | 21:24 WIB
(Foto: Oktavia Rahajeng)
(Foto: Oktavia Rahajeng)
Dusun Sumberwaru, Desa Banjaranyar, Tanjunganom sekilas nampak sama seperti desa pada umumnya. Namun, ternyata ada fakta menarik dengan desa tersebut. Sedikitnya ada sembilan orang yang menjadi produsen bakso dan tahu bakar di sana. Alhasil, desa itu banyak dilabeli masyarakat sebagai Kampung Pentol.

Bukan tanpa sebab Dusun Sumberwaru, Desa Banjaranyar, Tanjunganom mendapat julukan Kampung Pentol. Pasalnya, di dusun tersebut banyak warganya yang memproduksi bakso dan tahu bakar. Sedikitnya, ada sembilan orang yang menggeluti pekerjaan tersebut.

Slamet Sugiarto, 48, merupakan orang pertama yang mengawali berjualan bakso dan tahu bakar di sana. Tercatat, Slamet telah berjualan tersebut sejak tahun 2013 silam. Tak disangka, usahanya tersebut membuahkan hasil bagus. Alhasil, beberapa tetangganya yang akhirnya tergerak untuk ikut berjualan seperti dirinya.

Photo
Photo
(Foto: Oktavia Rahajeng)

“Sekitar satu tahun saya berjualan, lainnya ikut menyusul,” ujar Slamet saat ditemui oleh wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.

Tahun 2014, beberapa warga setempat mulai menggeluti usaha tersebut. Slamet sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Bahkan, dia dengan senang hati mengajarkan cara mengolah dan membuat bakso dan tahu bakar seperti miliknya.

Semua dilakukan Slamet dengan ikhlas. Dia percaya, rezeki sudah ada yang mengatur. Tidak mungkin bakal tertukar. Lebih dari itu, dia juga merasa senang bisa membantu sekitarnya. Apalagi, mereka bukan sekadar tetangga biasa. Masih termasuk keluarga. Mulai dari keponakan, saudara, dan kerabat.

Bapak tiga anak itu tak keberatan membagikan resepnya. Selain resep, dia juga menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan penjualan bakso dan tahu bakar itu. “Tidak ada salahnya berbagai resep. Justru saya senang bisa berbagi resep dan mereka bisa membuka usaha masing-masing,” terangnya.

Photo
Photo
(Foto: Oktavia Rahajeng)

Slamet mengaku membuat 750 tusuk setiap harinya. 500 tusuk bakso bakar dan 250 tusuk tahu bakar. Itu untuk hari-hari biasa. Jika hari khusus seperti menjelang Lebaran, dia bisa menyediakan stok sampai 1000 tusuk per hari.

Proses pembuatan pun dilakukan setiap hari. Mulai dari pukul 05.00 hingga 09.00 WIB. Pembuatan bakso bakar dimulai dari pengolahan adonan terlebih dahulu. Kemudian dicetak manual dengan tangan. Lalu direbus ke dalam sebuah panci besar. Setelah matang, bakso-bakso kecil itu dituangkan ke sebuah tampah.

“Didinginkan terlebih dahulu sebelum ditusuk-tusuk,” jelasnya. Selama proses pembuatan, setiap hari Slamet juga selalu dibantu oleh istrinya Masfufah dan satu orang pekerja.

Kesembilan penjual bakso bakar asal Dusun Sumberwaru juga menempati posisi yang berdekatan saat sedang berjualan. Yakni di tepi trotoar Alun-Alun Nganjuk. Seperti halnya Ismanto, 30, yang merupakan keponakan sekaligus anak didik Slamet.

Kepada koran ini, Ismanto mengaku banyak belajar dari sang paman. Dia berguru kepada Slamet mulai dari hulu hingga hilir. Saat berjualan pun mereka bersebelahan. “Saya banyak mendapat ilmu dari Pakdhe Slamet. Masing-masing sudah memiliki langganannya sendiri,” tandasnya.

Photo
Photo
(Foto: Oktavia Rahajeng)

Slamet Sugiarto, 48, tak menyangka bisa menggantungkan hidupnya dengan berjualan bakso dan tahu bakar. Saat awal berjualan 10 tahun silam, dia lebih memilih berkeliling. Menjajakan dagangannya di Kota Angin dan sekolah-sekolah.

“Di tahun 2013 itu belum ada pesaing, dan saya masih jualan keliling. Mengitari area kota saja. Terutama ke area sekolah-sekolah,” ujar Slamet.

Dia mengaku, sebelumnya terinspirasi oleh temannya yang berasal dari Ngawi yang lebih dulu berjualan bakso dan tahu bakar. Setelah cukup belajar, dia memutuskan membuka usaha bakso bakar sendiri. Dengan modal awal Rp 200 ribu pada saat itu.

Dengan modal tersebut Slamet sudah mendapatkan semua bahan yang dibutuhkan. Seperti tepung sagu, tepung tapioka, rempah-rempah, penyedap, bawang, daging ayam, dan tetelan daging sapi. Untuk olesan bakarannya adalah campuran dari minyak, kecap, saus, dan bumbu pedas.

Usaha dan kerja kerasnya ternyata membuahkan hasil manis. Slamet rata-rata dapat mengantongi pendapatan sekitar Rp 300 ribu setiap harinya. “Alhamdulillah, yang penting usaha terus. Jangan mudah menyerah,” tutur pria yang kerap mengenakan topi tersebut.

Melalui usaha kecil itu, dia telah memiliki banyak pelanggan. Mulai dari anak-anak kecil, remaja, dewasa, hingga orang tua. “Sudah langganan sejak masih SMA. Belinya selalu di Pak Slamet. Bakarannya enak,” aku Diana Eka, 26, salah satu pelanggannya asal Kelurahan Werungotok, Nganjuk.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita terkini #berita terbaru #berita hari ini #radar nganjuk #berita viral nganjuk