"Sudah lama tidak tersentuh yang bagian dalam. Kondisinya nggak karu-karuan," ujar Candra Kurniawan, 36, salah seorang warga setempat kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.
Menurut Candra, kios bagian dalam memang sejak awal berdirinya Kawasan Niaga Baru tidak hidup. Hanya beberapa kios saja yang tercatat aktif beroperasi. Seperti halnya lapak yang dulunya dimanfaatkan sebagai rental PlayStation (PS). Namun, lambat laun usaha tersebut akhirnya tutup.
Semakin lama, kondisi lapak bagian dalam semakin tak terawat. Bahkan, sering disalahgunakan. Seperti halnya buang air kecil sembarangan. Sehingga membuat kondisinya kumuh dan kotor. Rolling door di kios banyak berkarat dan rusak. "Kalau malam malah horor yang di bagian dalam. Kumuh," ucap Candra.
Sementara itu, Kepala Desa Pelem Surachman mengatakan, Kawasan Niaga Baru Kertosono tidak berhasil menarik pengunjung. Hanya kios di bagian luar saja yang mampu bertahan hingga sekarang. Itu pun hanya tinggal menyisakan beberapa kios. Hanya ada sebelas pedagang yang masih bertahan berjualan.
Menurut Rachman, Kawasan Niaga Baru tersebut salah konsep. Karena dengan konsep seperti ini maka kios di depan saja yang dilirik calon pembeli. Sedangkan, kios di bagian dalam kurang menarik pengunjung. Akibat, lambat laun kios di bagian dalam mati dengan sendirinya.
"Salah konsep sepertinya. Yang bagian dalam kurang diminati," ujarnya.
Terpisah, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Nganjuk Kartimah mengaku telah mempelajari aset tersebut. Dia mengatakan, kondisi kios bagian dalam sangat memprihatinkan. Terdapat kerusakan di mana-mana. Sehingga perlu banyak mendapatkan sentuhan.
Senada dengan Rachman, Kartimah menilai bahwa kios bagian dalam tersebut kurang diminati penyewa. Sehingga akhirnya dibiarkan begitu saja. "Kurang laku mungkin ya yang bagian dalam. Kondisinya tidak terawat," tandas perempuan berkerudung tersebut.
Lebih lanjut, Kartimah mengatakan, Pemkab Nganjuk sedang mencari solusi terbaik untuk perbaikan dan pengembangan kawasan tersebut ke depannya. "Kami masih mempertimbangan opsi-opsi yang ada termasuk menggandeng pihak ketiga untuk mengelolanya,"ujarnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah