Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengintip Tukang Permak Pakaian Unik di Alun-Alun Nganjuk

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 13 Maret 2023 | 21:19 WIB
(Foto: Karen Wibi)
(Foto: Karen Wibi)
Tukang permak pakaian dengan mudah dijumpai di penjuru Kota Angin. Namun, tidak banyak yang menggunakan sepeda motor sebagai gerobak jahit. Seperti apa yang dilakukan oleh tukang permak pakaian di jalan Supriyadi, Nganjuk ini. Mereka menyulap kendaraan bermotor masing-masing menjadi gerobak jahit.

Ada sesuatu yang unik saat melewati jalan Supriyadi, Nganjuk. Di sisi barat jalan, terdapat dua tukang permak pakaian. Mereka tidak seperti tukang permak kebanyakan. Umumnya, penjahit akan duduk manis di depan mesin jahitnya. Namun, mereka justru menjahit dari becak dan sepeda motornya.

Photo
Photo
(Foto: Karen Wibi)

Sampan, 52, warga Kelurahan Begadung, Nganjuk ini menyulap becak motor miliknya menjadi gerobak jahit. Begitu pula dengan Suwoko, 50, warga Jatirejo, Nganjuk yang memodifikasi sepeda motornya. Kreativitas kedua tukang permak ini pun berhasil menarik minat warga Kota Angin. Banyak orang yang akhirnya menjadi pelanggan mereka.

Mereka berdua melapak setiap hari Sabtu hingga Kamis. Sedangkan hari Jumat, mereka libur. Jam operasionalnya relatif singkat. Yakni mulai pukul 08.00-13.00 WIB. Kendati sebentar, mereka selalu mendapat banyak pesanan. Bahkan dalam sehari, kedua pria itu mengaku bisa mendapat pemasukan hingga ratusan ribu rupiah.

"Alhamdullilah, dalam sehari rata-rata bisa dapat Rp 150 ribu," ujar Sampan kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk.

Sampan sudah menjadi tukang permak pakaian di sana sejak tahun 2010 silam. Praktis, kini dia sudah 13 tahun menggeluti usahanya tersebut.

Photo
Photo
(Foto: Karen Wibi)

Pria 52 tahun itu mengaku sudah menjadi penjahit di Jalan Supriyadi sejak tahun 2010. Saat itu, sepulang dari bekerja di Jakarta, Sampan ingin membuka sebuah usaha. Karena hanya bisa menjahit, alhasil Sampan bekerja sebagai penjahit.

Dulu, Sampan sempat merantau ke Jakarta. Namun, akhirnya dia pulang kampung dan ingin usaha sendiri. Permak pakaian jadi tujuannya. Pasalnya, dia memiliki keahlian menjahit. Sayang, niat itu terbentur modal. Dia harus memutar otak. Hingga tercetus ide menjadi tukang permak keliling.

Awal mula kemunculannya, Sampan masih menggunakan sepeda ontel. Lambat laun, namanya mulai dikenal. Pelanggannya mulai banyak. Akhirnya, dia memutuskan untuk mangkal di jalan Supriyadi, Nganjuk saja. Seiring adanya modal, sepeda ontel itu pun diganti menjadi becak motor.

"Kalau menjelang tahun ajaran baru pasti lebih ramai lagi pelanggannya," ungkap Sampan.

Hal tidak jauh berbeda disampaikan Suwoko. Dia juga merasa bahwa jalan Supriyadi, Nganjuk cocok untuk melapak. Karena banyak pengendara yang melewati jalur tersebut. Sehingga usahanya juga menjadi lebih sering dilihat orang. Hasilnya banyak pengendara yang suatu saat pasti mampir di tempatnya.

"Di sini mudah dihafal. Soalnya jarang ada yang jualan di sini," tutur Suwoko.

Hanya saja, dia memang tergolong juniornya Sampan. Pasalnya, Suwoko baru menggeluti pekerjaan ini sejak tiga tahun lalu. Namun begitu, dia mengaku dalam sehari dirinya bisa mendapat pemasukan hingga Rp 150 ribu. Bahkan saat menjelang lebaran, dia mengaku bisa mendapat pendapatan lebih dari Rp 200 ribu per harinya.

"Alhamdullilah bisa buat menafkahi istri sama anak-anak," tandas ayah dua anak tersebut.

Photo
Photo
(Foto: Karen Wibi)

Ada alasan khusus mengapa Sampan dan Suwoko menggunakan becak dan sepeda motor menjadi gerobak jahit. Selain untuk menarik perhatian pelanggan, cara tersebut juga ampuh untuk kabur dari kejaran petugas Satpol PP Kabupaten Nganjuk.

Seperti saat tahun 2020 hingga 2022. Kala itu, Covid-19 tengah merajalela. Alhasil, pedagang yang biasa berjualan di tepi jalan tidak diperbolehkan untuk berjualan. Termasuk mereka. Alasannya, untuk menekan persebaran Covid-19.

"Dulu waktu pandemi masih tinggi, harus kejar-kejaran sama petugas Satpol PP,” beber Suwoko.

Kala itu, dia mengaku petugas Satpol PP sering melakukan razia. Setiap melihat petugas dari kejauhan, Suwoko akan langsung bersiap melarikan diri. "Selalu aman, nggak pernah tertangkap," akunya.

Hal senada juga yang dirasakan oleh Sampan. Dirinya mengaku, selama 13 tahun menjadi tukang permak pakaian sudah beberapa kali dirazia oleh petugas Satpol PP. Karena dulu hanya menggunakan sepeda ontel, Sampan tidak bisa kabur.

Untuk mencari cara lain, Sampan lalu menggunakan becak motor yang disulap menjadi gerobak jahit. Cara itu ternyata ampun untuk lari dari kejaran petugas. Karena saat ada petugas, dengan sigap dia akan meninggalkan lokasi. Dia akan berputar-putar sembari menunggu waktu aman. Jika sudah aman, dirinya akan kembali ke tempatnya.

"Selain muter-muter biasanya ya cari tempat lain dulu," ungkap Sampan.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita terkini #berita viral #berita terbaru #berita hari ini #radar nganjuk