Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengintip Tumbuhnya Belasan Kafe Baru di Desa Bajulan, Loceret

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 13 Maret 2023 | 21:14 WIB
(Foto: Andhika Attar)
(Foto: Andhika Attar)
Belasan kafe baru mulai tumbuh di Bajulan, Loceret sejak enam bulan lalu. Meski berada di pelosok, namun keberadaan kafe tersebut mampu menarik minat pengunjung. Pasalnya, banyak pengunjung yang terpikat dengan suguhan pemandangan asri khas pegunungan. Cocok untuk healing.

Ada sesuatu yang berbeda ketika memasuki Desa Bajulan, Loceret. Kini, di sepanjang jalan menuju pusat desa tersebut menjamur belasan kafe baru. Baik yang sudah beroperasi maupun proses pembangunan. Padahal, dulunya hanya ada tiga warung kopi (warkop) yang berjualan di sana.

Namun, kondisi tersebut berubah sejak enam bulan terakhir. Warga di sana mulai memanfaatkan lahan yang ada di sepanjang jalan tersebut. Mereka menyulap kawasan hutan yang dipenuhi semak belukar itu menjadi tempat nongkrong.

Seperti halnya kafe milik Siti Sulastri, 40. Warga asli Desa Bajulan ini mengatakan bahwa kafenya sudah mulai beroperasi sejak lima bulan lalu. Siti memberanikan diri untuk mendirikan kafe tersebut sebagai lahan pendapatannya. “Pokok yakin dulu,” ujarnya saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Nganjuk.

Pasalnya, banyak warga yang meragukan rencana Siti. Mayoritas memandang sebelah mata bahwa ide membuka kafe di sana bakal laris. Selain jauh dari perkotaan, kawasan tersebut dulunya hanya hutan. Tidak menarik untuk dijadikan tempat kunjungan.

Photo
Photo
(Foto: Andhika Attar)

Mendapat tanggapan semacam itu, Siti justru semakin tertantang. Dia yakin bahwa kawasan tersebut apabila ditata bakal menjadi indah. Sehingga dapat menarik pengunjung atau wisatawan. Dan benar saja. Baru sebulan beroperasi, kafenya ramai dikunjungi muda-mudi.

Tak ayal, banyak warga lain yang akhirnya mengikuti jejak Siti. Hingga akhirnya, kini ada lebih dari 15 kafe di sana. Termasuk yang masih dalam tahap pembangunan. “Saya justru senang banyak temannya seperti ini. Kawasan di sini malah jadi lebih ramai,” akunya.

Menu yang disuguhkan beragam. Mulai dari aneka mie instan, bakso, mie ayam, dan semacamnya. Begitu pula dengan sajian minumannya. Semuanya dipatok dengan harga terjangkau. Tidak akan menguras kantong. “Harganya standar semua,” tandas Siti.

Kekuatan utama belasan kafe di sana adalah pemandangan alam. Kawasan tersebut sangat asri. Pepohonan tumbuh dengan rindang. Aliran sungai mengalir dengan jernihnya. Potensi ini yang menjadi magnet utama banyak pengunjung datang ke sana.

“Saya sudah lima kali ini datang ke sini. Tempatnya asri, cocok untuk healing,” ungkap Farida Siti, 18, salah seorang pengunjung asal Desa Sengkut, Berbek tersebut.

Farida sengaja datang ke sana bersama teman-teman sekolahnya. Dia mengaku bosan dengan suasana perkotaan. Sehingga sangat menikmati sejuknya kawasan tersebut. Bahkan, mereka bisa bermain air di sungai yang jernih di sana. “Sejuk. Seru bisa bermain air juga,” pungkasnya.

Photo
Photo
(Foto: Andhika Attar)

Selain menikmati keindahan alam yang indah, pengunjung kafe di kawasan Bajulan juga dapat memperkaya kebutuhan konten media sosial mereka. Pasalnya, banyak spot foto instragamable yang disuguhkan para pengelola kafe di sana.

Pengunjung dengan mudah dapat memilih spot foto andalan mereka. Mulai dari latar belakang hutan, rindang pepohonan, hingga segarnya air sungai yang mengalir dengan jernih di sana. Tak ayal, hal itu menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung. Khususnya mereka yang masih remaja.

“Banyak spot foto yang bagus. Cakep untuk diposting di media sosial (medsos),” aku Farida Siti, 18, salah seorang pengunjung asal Desa Sengkut, Berbek tersebut.

Bahkan, dia sengaja menimbun banyak foto untuk diunggah ke depannya. Tidak hanya berfoto sendiri. Farida juga banyak mengambil foto bersama-sama dengan bestie-nya. “Seru kalau ramai-ramai gini. Bisa sambil ngerumpi dan bercanda,” tuturnya.

Hal senada disampaikan oleh Ika Nur Hidayati, 24. Pengunjung asal Desa Godean, Loceret ini mengaku terkesima dengan keindahan alam yang disajikan di sana. Menurutnya, kawasan tersebut sudah indah sejak awalnya. Semakin indah lagi ketika dipoles seperti sekarang.

“Bagus lokasinya. Meskipun jauh tapi terbayar dengan pemandangan yang ada,” ungkap Ika.

Sementara itu, Siti Sulastri, 40, salah satu pengelola kafe di sana mengatakan bahwa kunjungan di sana meningkat setiap akhir pekan. Bahkan, pendapatannya bisa meningkat hingga dua kali lipat ketika weekend. “Kalau hari biasa sekitar Rp 200 ribu. Kalau weekend bisa tembus Rp 500 ribu per harinya,” beber Siti.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita terkini #tempat kopi viral di nganjuk #wisata nganjuk #radar nganjuk #rekomendasi tempat ngopi di nganjuk