Gus Hasyim mengatakan, Tugu Asmaul Husna di pertigaan Masjid Agung Nurul Huda, Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom itu memiliki fungsi utama sebagai edukasi. Harapannya, orang yang melihat dan membaca nama-nama Allah di lingkaran yang menyerupai buah melon itu bisa mengenal dan menghafal asmaul husna. “Tugu Asmaul Husna itu tidak boleh dibangun untuk sekadar hiasan,” tandasnya.
Karena fungsinya sebagai edukasi, mantan anggota DPRD Kabupaten Nganjuk ini mengatakan, penyusunan nama-nama di Asmaul Husna harus urut. Bisa secara vertikal atau horizontal. Tidak boleh diacak. Sehingga, orang yang membacanya akan lebih mudah menghafal.
Selain itu, Gus Hasyim meminta agar 99 nama di Tugu Asmaul Husna juga dipasang artinya dalam bahasa Indonesia. Ini penting. Karena tidak semua warga mengerti arti bahasa Arab. Dengan ada terjemahan menggunakan bahasa Indonesia maka fungsi edukasi di Tugu Asmaul Husna akan benar-benar dirasakan manfaatnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nganjuk Subani mengatakan, kekurangan lima nama di Tugu Asmaul Husna tersebut akan dibahas dengan rekanan dan pengawas proyek. “Kami akan rapatkan dulu,” ujarnya.
Yang jelas, Subani berjanji akan meminta rekanan menambah kekurangan lima nama di Tugu Asmaul Husna. Sehingga, akan ada 99 nama Allah di tugu yang dibangun bersamaan dengan Tugu Nasi Pecel di Kecamatan Kertosono itu. Apalagi, tugu tersebut juga masih dalam masa pemeliharaan rekanan. Waktu perawatan adalah enam bulan. Segala bentuk kekurangan dan kerusakan masih tanggung jawab rekanan. Editor : Anwar Bahar Basalamah