Dengan mengacu data itu, los yang dibangun adalah 557 los. Ukurannya dibuat sama. Yaitu, 1,6 meter x 1,5 meter. Ini karena keterbatasan lahan di lantai 1 Pasar Kertosono. Sehingga, jika ukuran los dibuat tidak sama antara pedagang sayur, ayam, dan daging dengan pedagang pakaian, sepatu dan sandal maka lahannya tidak cukup.
Dijelaskan mantan Kepala Disporabudpar Kabupaten Nganjuk ini, konsep awal Pasar Kertosono itu tiga lantai. Bukan satu lantai. Jika mengacu pada konsep awal maka 557 pedagang akan menempati lantai 1, 2, dan 3. Namun, karena adanya Covid-19 hingga terjadi recofussing anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) maka konsep pembangunan Pasar Kertosono diubah. Tidak lantai tiga lantai diselesaikan semua. Namun, hanya fokus menyelesaikan lantai 1. Sedangkan, lantai 2 dan 3, tidak digunakan. Otomatis, ukuran los menjadi sempit.
Gunawan berharap, pedagang Pasar Kertosono bisa bersabar. Dinas PUPR akan mengusulkan untuk finishing lantai 2 dan 3. Sehingga, jika nanti mendapat kucuran dana dari APBD Kabupaten Nganjuk lagi maka lantai 2 dan 3 akan diselesaikan. Sehingga, bisa ditempati pedagang. “Insya Allah tahun depan akan kami anggarkan agar finishing lantai dua dan tiga bisa dilaksanakan,” ungkapnya.
Lalu bagaimana dengan nasib 243 pedagang yang tidak kebagian los? Gunawan menjelaskan, untuk pengelolaan pasar, termasuk pembagian los ke pedagang itu adalah kewenangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Nganjuk. Dinas PUPR hanya menyerahkan bangunan Pasar Kertosono untuk dikelola disperindag. Nantinya, disperindag akan koordinasi dengan pedagang tersebut. “Januari ini Pasar Kertosono akan kami serahkan ke disperindag,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Paguyuban Pedagang Pasar Kertosono Susanto membantah, data 800 pedagang Pasar Kertosono itu adalah data riil. Tidak ada pedagang siluman. “Data ini data sebenarnya. Bukan data yang saya buat-buat,” ujarnya.
Terkait adanya perbedaan 243 pedagang, Susanto mengatakan, selisih itu karena saat dilakukan pendataan awal itu ada pedagang yang belum masuk. Sehingga, tidak terdata. Editor : Anwar Bahar Basalamah