Delapan tugu itu akan dibangun di delapan titik. Tidak di Kecamatan Nganjuk. Namun, ada di delapan kecamatan, antara lain Kecamatan Kertosono, Tanjunganom, Rejoso, dan Pace.
Untuk desain tugu, tidak akan sama di setiap kecamatan. Tugu akan menyesuaikan dengan ikon masing-masing kecamatan. Misalnya, Kecamatan Kertosono yang terkenal dengan pecel, bisa menggunakan tugu nasi pecel. “Desainnya kami serahkan masing-masing kecamatan,” ungkap politisi dari PDI Perjuangan ini.
Terkait anggaran pembangunan tugu, Marianto mengatakan, anggaran berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Nganjuk 2022. Setiap tugu dialokasikan anggaran sekitar Rp 50 juta-Rp 60 juta. Karena di bawah Rp 200 juta maka tidak dilakukan lelang. Hanya penunjukan langsung (PL).
Pembangunan proyek tugu tersebut sendiri ditarget selesai akhir tahun ini. Meski tinggal menyisakan waktu satu bulan lebih tetapi DPRD optimistis bisa selesai tepat waktu. “Proyeknya kan juga tidak besar. Jadi harus bisa selesai akhir tahun ini,” tandas Marianto.
Pembangunan tugu-tugu di Kabupaten Nganjuk itu karena Marianto untuk mempercantik kota. Selain itu, tugu tersebut sebagai identitas atau ikon daerah masing-masing. Seperti halnya tugu air mancur merambat di pertigaan Tanjung, tugu bawang merah Mastrip, dan tugu bambu di Jalan Merdeka, Nganjuk. “Biar ada ikon dan menjadi keindahan di setiap kecamatan,” imbuhnya.
Sementara itu, Plt Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi berharap, dengan banyaknya tugu yang indah dan memesona akan membuat warga luar kota berbondong-bondong ke Kota Angin. Sehingga, perekonomian masyarakat meningkat. “Semoga Nganjuk semakin maju dan masyarakat sejahtera,” harapnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah