“Tidak mesti. Kadang kalau sepi gitu cuman 20 ribu atau 30 ribu,” ungkap Romadhon, 44, seorang penjaga perlintasan kereta api tanpa palang yang berada di Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom.
Romadhon mengatakan, dirinya sudah menjadi penjaga perlintasan tanpa palang sejak 15 tahun lalu. Sejak saat itu, dirinya tidak pernah mendapat bayaran secara rutin.
Untuk mencari pemasukan, dirinya harus menunggu belas kasihan pengendara yang lewat. Itu pun juga tidak pasti. Karena mayoritas pengendara lebih memilih untuk lewat tanpa memperhatikan penjaga.
Dari pantauan wartawan koran ini, selama 15 menit, penjaga hanya mendapat uang Rp 3 ribu. Uang tersebut diberikan oleh tiga pengemudi mobil yang melintas di perlintasan kereta api tersebut.
Menurut Romadhon, uang Rp 3 ribu adalah angka yang besar. Karena di beberapa kesempatan, bapak tiga anak itu bahkan tidak mendapat uang selama berjam-jam. “Itu biasanya kalau sedang hujan,” ungkapnya.
Lalu berapa pendapatan Romadhon dalam sehari? Menanggapi pertanyaan tersebut, Romadhon tidak bisa menjawab pasti. Tertinggi, Romadhon pernah mendapat Rp 100 ribu per hati. Jika sepi, hanya Rp 20 ribu–Rp 30 ribu.
Sementara itu, Munadi, 40, mengatakan jika dirinya sering mendapat uang lebih sedikit dari Romadhon. “Karena di sini jalannya lebih sepi,” ungkap penjaga perlintasan di Desa/Kecamatan Sukomoro.
Bahkan bayaran yang dia dapat tidak selalu berupa uang. Namun juga permen dan nasi bungkus saat Jumat Berkah.
Meski tidak mendapat bayaran pasti, Munadi mengaku tidak masalah. Karena saat menjadi penjaga perlintasan kereta api, Munadi sudah berniat untuk menolong warga. “Tidak masalah. Kita niatnya bantu orang,” pungkasnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah