Atas meninggalnya ayahanda tercinta, Tatit meminta doa dan permohonan maaf kepada semua masyarakat Kota Angin dan yang mengenal Soesilo Moeslim. Harapannya, Mbah Moeslim diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Kabar duka tersebut membuat rumah Mbah Moeslim di Desa Karangtengah, Kecamatan Bagor dipenuhi petakziah. Mulai dari kader PDI Perjuangan, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), Sekda M. Yasin, hingga pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Nganjuk hadir. Karangan bunga dari berbagai kalangan juga terus berdatangan. Semuanya merasa kehilangan atas kepergian Mbah Moeslim.
Sekitar pukul 09.00 WIB, jenazah Mbah Moeslem diberangkat ke tempat pemakaman umum (TPU) Desa Kendalrejo, Kecamatan Bagor. Dengan berjalan kaki, jenazah dibawa ke TPU yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah duka. Sebelum diberangkatkan, Tatit dan keluarga melakukan brobosan terlebih dulu. “Beliau (Mbah Moeslem, Red) merupakan sosok pejuang. Apa yang telah Beliau berikan untuk PDI Perjuangan dan masyarakat harus menjadi contoh kita,” sambung Gondo Hariyono, anggota DPRD Kabupaten Nganjuk dari PDI Perjuangan.
Hal senada diutarakan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nganjuk Jianto dan Raditya Haria Yuangga. Keduanya sepakat bahwa Mbah Moeslim merupakan sosok panutan dalam berpolitik. Meski berbeda partai politik tetapi Jianto dan Mas Angga sangat menghormati dan mengaggumi Mbah Moeslem.
Sedangkan, Sekda M. Yasin berharap, Mbah Moeslem mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga diberi ketabahan. “Kami semua mendoakan yang terbaik untuk almarhum dan keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya.
Hal yang sama diutarakan, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPRKPP) Kabupaten Nganjuk Agus Frihannedy. “Loyalitas dan perjuangan Beliau untuk partai sangat luar biasa. Beliau juga mampu membangun iklim politik di Kabupaten Nganjuk selalu kondusif,” pujinya. Editor : Anwar Bahar Basalamah