Dengan status mahasiswi, Ma mengaku lebih percaya diri (pede). Sehingga, saat kuliah, dia juga mencari jodoh. Karena itulah, saat mau wisuda, Ma mengaku kebingungan. Dia belum mendapatkan jodoh yang diidamkan. Dia juga tidak sreg atau menguasai ilmu yang didapat dari bangku kuliah. “Bingung nanti kerja jadi apa. Soalnya kuliahnya ikut-ikutan,” ungkapnya.
Persoalan yang dialami Ma itulah yang membuat lulusan sarjana banyak yang nganggur. Karena dia tidak memilih program studi (prodi) sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Akibatnya, saat lulus dari bangku kuliah, dia tidak memiliki kemampuan dan pengalaman kerja saat masih aktif menjadi mahasiswa.
Selain itu, banyaknya sarjana yang nganggur itu karena mereka pilih-pilih pekerjaan. Banyak fresh graduated ogah bekerja dengan upah kecil atau di perusahaan kecil. Mereka memburu pekerjaan dengan upah besar dan perusahaan besar. “Harusnya fresh graduated itu tidak pilih-pilih pekerjaan. Karena itu akan menjadi pengalaman kerja yang bisa jadi pertimbangan perusahaan lain jika ingin merekrutnya,” sambung Kepala Dinas Tenaga Kerja Supiyanto melalui Kabid Kabid Hubungan Industrial dan Perlindungan Tenaga Kerja Suwanto.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ushuludin dan Ilmu Agama IAI Diponegoro M. Ali Anwar mengatakan, sebenarnya, perguruan tinggi tidak hanya memberi ilmu sesuai prodi masing-masing mahasiswa. Namun, mahasiswa juga dibekali skill yang dibutuhkan dunia kerja. Ini agar saat lulus, mereka bisa mendapatkan pekerjaan tanpa harus terpaku pada satu bidang keilmuan. “Mahasiswa ekonomi syariah di sini juga kami bekali digital marketing. Jadi, bisa berguna saat mereka masih menjadi mahasiswa atau saat lulus kuliah nanti,” ujarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah