“Delapan tahun saya tidak pernah beli bensin,” ujar Sumarni saat ditemui wartawan koran ini kemarin. Karena itu, saat harga BBM bersubsidi naik dan banyak orang menggelar aksi, Sumarni terlihat adem ayem. Dia tidak bingung harus menyisihkan uang lebih untuk membeli bensin. Sebab, sejak 2014, ibu dua anak ini memutuskan untuk naik sepeda listrik sebagai alat transportasinya setiap hari. Setiap berangkat mengajar ke sekolah dan pulang mengajar, Sumarni naik sepeda listrik.
Pemilihan sepeda listrik ini karena Sumarni menganggap kendaraan itu lebih aman daripada sepeda motor. Hal ini setelah Sumarni mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor. Dia menjadi trauma mengendarai motor. Apalagi, Sumarni harus mandiri karena sang suami meninggal dunia. Sehingga, dia tidak lagi diantar suami ke sekolah.
“Sepeda listrik ini dibelikan anak saya di Kediri. Harganya Rp 3,6 juta,” ungkapnya. Meski sudah berusia delapan tahun tetapi sepeda listrik itu masih bisa digunakan. Tidak pernah terjadi kerusakan. Hanya mengganti baterai. Itupun hanya dua kali. Maklum, sepeda listrik warna merah hanya digunakan guru yang akan pensiun bulan depan ini untuk berangkat mengajar. Jarak rumahnya dengan sekolah hanya sekitar satu kilometer. Tidak terlalu jauh. “Kalau ke mana-mana iya jalan kaki. Karena hanya belanja sekitar rumah,” ungkap nenek tiga cucu ini.
Karena itu, Sumarni tidak bingung saat harga BBM naik. Dia tetap enjoy dengan sepeda listriknya. Uang untuk beli bensin bisa digunakan untuk nyangoni cucunya. “Hemat pakai sepeda listrik,” ujarnya.
Karena itu, rencananya, setelah pensiun nanti, dia tetap akan menggunakan sepeda listriknya. Tidak untuk berangkat mengajar. Namun, untuk membonceng cucu ke taman kanak-kanak (TK). Sehingga, sepeda listrik itu tidak nganggur di rumah. “Nanti cucu saya tak antar naik sepeda listrik,” ungkapnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah