Kenaikan tarif juga terjadi di kelas ekonomi. Bus jurusan Nganjuk-Surabaya tanpa lewat tol juga naik. Jika sebelumnya, tarif bus ekonomi hanya Rp 17 ribu, sekarang menjadi Rp 23 ribu. “Naik Rp 6 ribu,” ungkap Eko.
Jika bus antar kota dalam provinsi (AKDP) hanya mengalami kenaikan ribuan hingga belasan ribu, tidak dengan bus antar kota antar provinsi (AKAP). Tarif bus meningkat hingga hampir dua kali lipat. Bus jurusan Surabaya-Sumatera lewat Nganjuk tarifnya mencapai Rp 1 juta. Padahal, sebelum adanya kenaikan harga BBM bersubsidi tarif bus ke Sumatera hanya Rp 560 ribu. “Kenaikan Rp 440 ribu ini paling tinggi selama ini,” sambung petugas tiket PO Putra Remaja, Ritma Rahmania.
Karena tarif bus ke Sumatera yang tinggi tersebut membuat calon penumpang memutuskan untuk batal berangkat. Sehingga, penumpang bus ke Sumatera mengalami penurunan. “Penumpang bus ke Sumatera ini hanya langganan saja,” keluh Ritma.
Sementara itu, M. Yusuf, 29, warga Kertosono mengatakan, kenaikan tarif bus membuat dia memilih mengendarai sepeda motor ke Surabaya. Karena lebih hemat dan cepat. “Daripada lama nunggu bus. Lebih baik naik motor saja,” ujarnya.
Yusuf mengatakan, sebenarnya, dia bisa memahami kenaikan tarif bus. Karena harga BBM naik. Namun demikian, dia juga harus berhemat. Sebab, upahnya bekerja di perusahaan tidak mengalami kenaikan. Sedangkan, kebutuhan sehari-hari banyak. “Upah minimum kabupaten/kota (UMK) itu naiknya setahun sekali. Tidak bisa sewaktu-waktu,” ujarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah