"Damkarmat itu harus siaga 24 jam," ujar Kepala Dinas Damkarmat Kabupaten Nganjuk Sujito kemarin. Ini karena kejadian kebakaran tidak bisa diprediksi. Bisa pagi, siang atau malam hari. Bahkan, saat orang sedang tidur terlelap, damkarmat harus berjuang memadamkan api.
Selain harus siaga 24 jam, damkarmat juga harus mempertaruhkan nyawa. Saat orang takut mendekat karena si jago merah mengamuk, damkarmat akan datang. Dia akan mendekati si jago merah. Menyemprotnya. Hingga, si jago merah berhasil dipadamkan. Untuk bisa menjinakkan api, bukan hal yang mudah. Damkarmat harus menerobos bangunan yang terbakar. Otomatis, risiko tertimpa bangunan yang terbakar atau dilalap api bisa dialami. Nyawa adalah taruhannya. “Ini adalah risiko yang harus dihadapi damkarmat untuk membantu dan menyelamatkan warga,” ujar Jito Damkar-panggilan akrab Sujito di damkarmat.
Selain bisa kehilangan nyawa, damkarmat juga harus siap terluka. Hal itu seperti yang dialami Budiono. Dia terjatuh dari atas teras rumah warga saat mengevakuasi sarang tawon. Maklum, selain bertugas memadamkan api, damkarmat juga memiliki tugas penyelamatan, meliputi evakuasi sarang tawon, melepas cincin di jari yang tidak bisa lepas hingga menangkap ular yang masuk rumah warga.
Akibat terjatuh dari teras rumah warga saat mengevakuasi sarang tawon , Budiono mengalami luka parah pada Oktober 2021. Karena tinggi atap teras rumah itu sekitar 3,5 meter. Dia harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. “Bahu kiri Budiono patah,” sambung Yudi Satriana Hardi, Kabid Pemadaman, Penyelamatan, dan Sarpras Dinas Damkarmat Kabupaten Nganjuk.
Beruntung, setelah dirawat intensif, Budiono bisa sembuh. Untuk pengobatan petugas yang mengalami kecelakaan kerja ini ditanggung BPJS Ketenagakerjaan. Karena semua damkarmat itu diikutkan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Ini dilakukan agar saat menjalankan tugas yang berisiko tinggi, damkarmat terlindungi. Karena semua bisa saja terjadi sewaktu-waktu. “Kami juga ikut BPJS Kesehatan,” imbuh Yudi. Editor : Anwar Bahar Basalamah