“Anak saya kena Rp 3 juta,” ujar Mbak Sri (bukan nama sebenarnya, Red), orang tua dari siswi SD di Kertosono dengan bangga. Dia sangat senang anaknya bisa tampil di karnaval tahun ini. Karena selama dua tahun, karnaval ditiadakan. Penyebabnya, pandemi Covid-19. Segala acara yang berpotensi menimbulkan kerumunan tidak diizinkan. Sehingga, karnaval yang akan dilaksanakan pada Sabtu (20/8) nanti menjadi oase di padang pasir.
Bagi Mbak Sri, sebenarnya uang Rp 3 juta bukan nominal yang kecil untuk dandan karnaval yang hanya sekitar tiga jam tampil. Dia hanya penjual pecel di tepi jalan. Omzetnya tidak besar. Sehingga, jika harus mengeluarkan uang Rp 3 juta, bukan hal yang mudah. “Iya nanti cari utangan dulu. Sing penting anake macak,” ujarnya enteng.
Ibu dua anak ini mengaku, bangga bisa melihat anaknya dandan dengan memakai kostum mahal. Sebab, baginya, momen tersebut tidak akan terulang setelah sang anak lulus sekolah. “Setahun sekali saja.Tidak apa-apa utang-utang,” ujarnya.
Jika Mbak Sri ngotot pinjam uang agar anaknya bisa nyalon dan ikut karnaval, tidak demikian dengan Mak Siti (bukan nama sebenarnya, Red). Penjual jamu keliling asal Nganjuk ini harus memecah celengan agar anaknya bisa dandan karnaval. Karena meski hanya sekadar dandan sebagai prajurit, uang yang dikeluarkan juga dianggapnya besar. “Kena Rp 350 ribu,” ujarnya.
Mak Siti mengatakan, setiap Agustusan, karnaval menjadi pengeluaran terbesar. “Untungnya tidak ke salon. Didandani di sekolah. Jadi, saya masih bisa jualan jamu,” ujarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah