Musik keroncong terdengar merdu di ruangan di Museum Anjuk Ladang pada Jumat lalu (5/8). Tiba-tiba, terdengar suara pengunjung pameran temporer di museum. Mereka seperti penasaran dengan foto-foto yang dipamerkan dr Metta. “Itu foto siapa? Itu foto dimana? Bagus ya fotonya,”. Kalimat-kalimat tersebut tampak terdengar saling bersahutan.
Sembari melemparkan pertanyaan, para pengunjung menunjuk ke puluhan foto yang saat itu sedang dipasang di pameran dalam rangka Pameran Temporer di Museum Anjuk Ladang yang diadakan oleh Dinas Kepemudaaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk. Sedangkan di dinding dipajang puluhan foto hitam putih secara rapi di bilik pameran. Di satu frame yang sama, foto tersebut tampak disandingkan dengan foto berwarna.
“Yang kiri itu foto tempo dulu. Sedangkan, yang kanan itu foto baru,” dokter Metta, pemilik foto yang sedang dipamerkan di Museum Anjuk Ladang.
Sebagai contoh, dr Metta menunjuk salah satu foto. Pada foto hitam putih itu, tampak sebuah jalan raya yang cukup lebar. Di kanan dan kiri, tampak sebuah pertokoan yang ramai pengunjung. Sedangkan, di sebelah kanan foto tersebut adalah foto Jalan Ahmad Yani Nganjuk saat ini. Dua foto tersebut adalah foto yang sama. Yaitu Jalan Ahmad Yani. Bedanya, foto hitam putih diambil di tahun 1938 sedangkan foto berwarna diambil di tahun 2020.
Tidak hanya foto Jalan Ahmad Yani, di pameran tersebut, dr Metta juga menunjukkan puluhan foto lainnya. Seperti Kantor Dinas PUPR Kabupaten Nganjuk, saluran irigasi di Kecamatan Baron, hingga Hotel Pasangrahan yang berada di Kecamatan Sawahan. “Saya suka mengoleksi foto Kabupaten Nganjuk saat zaman kolonial,” ungkap pria berkacamata tersebut.
Menurut lulusan S1 Universitas Brawijaya tersebut, kegemarannya dalam mengoleksi foto zaman kolonial mulai muncul sejak 5 tahun yang lalu. Namun dia baru menunjukkan hobinya ke publik sejak dua tahun yang lalu. Hal itu setelah koleksinya banyak.
Sebenarnya, hobi mengoleksi foto tempo doeloe itu muncul karena hatinya sedih. Dia menganggap banyak orang sudah melupakan sejarah. Padahal, rakyat Indonesia harus berjuang dengan mengorbankan nyawa dan semuanya untuk meraih kemerdekaan.
Melihat hal itu, Metta ingin mengedukasi masyarakat. Salah satunya adalah dengan menunjukkan sejarah melalui foto. Dalam mengumpulkan foto bersejarah, berbagai cara dia lakukan. Cara yang pertama adalah pergi ke satu per satu orang yang memiliki koleksi pribadi. “Biasanya orang yang sudah sepuh atau sesepuh itu punya foto tempo dulu,” ungkapnya.
Lalu yang kedua adalah dengan mencari di koleksi museum yang berada di Belanda. Namun untuk mencari foto tersebut Metta mengaku tidak pergi ke Negeri Kincir Angin. Namun, dokter berusia 42 tahun itu berburu secara online.
Walaupun demikian, tidak semua foto dapat diakses oleh Metta secara gratis. Karena di beberapa foto, pengakses diwajibkan untuk membayar. “Seperti foto sensitif di Dermojoyo itu harus bayar,” ungkapnya.
Untuk satu fotonya, Metta mengaku harus merogoh kocek sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Namun untuk beberapa koleksi yang lebih langka, dia harus mengeluarkan uang hingga Rp 500 ribu.
Selain berburu foto tempo doeloe, Metta juga harus belajar bahasa Belanda. Maklum, semua foto jadul itu menggunakan bahasa Belanda. Sehingga, sedikit banyak dia harus bisa berbahasa Belanda untuk berburu foto zaman kolonial Belanda. Editor : Anwar Bahar Basalamah