Karena itu, Afif lebih sreg jika KBM untuk siswa di MIN 1 Nganjuk menggunakan sistem sif. Yaitu, pagi dan siang hari. Sehingga, siswa bisa mengikuti KBM secara langsung. "Tidak apa-apa model sif. Karena kondisinya memang darurat," ujarnya.
Untuk diketahui, Akhmad Sofyan, Kepala MIN 1 Nganjuk di Desa Kedungombo, Kecamatan Tanjunganom memiliki beberapa opsi untuk 90 siswa kelas 1 yang tiga ruang kelasnya terbakar. Opsi pertama adalah KBM tatap muka dengan sistem sif. Kedua, KBM dilaksanakan pagi hari dengan numpang di RA yang jaraknya dekat MIN. Kemudian, terakhir KBM dilaksanakan daring sambil menunggu perbaikan tiga ruang kelas dan satu gudang yang terbakar selesai. Opsi tersebut akan ditawarkan ke orang tua wali murid hari ini dan dikonsultasikan ke kantor kemenag.
Terkait perbaikan ruang kelas dan gudang, Afif mengatakan, pihaknya sudah melapor ke Kanwil Kemenag Jatim. Kanwil juga telah melakukan pengecekan langsung ke MIN 1 Nganjuk. Hasilnya, kemenag bakal melakukan perbaikan MIN. "Kami sudah laporkan ke bagian sarana dan prasarana (sarpras) Kanwil Kemenag Jawa Timur. Diupayakan untuk rehab," ujarnya.
Perbaikan akan difokuskan untuk mengganti material yang mengalami kerusakan saja. Terutama, bagian atap bangunan yang ambrol karena dilalap si jago merah.
Sedangkan untuk sarana pendukung dan barang-barang yang terbakar kemungkinan belum masuk dalam bagian penggantian. "Kami utamakan yang darurat dulu. Yang penting anak-anak bisa kembali belajar dengan nyaman dan aman dulu," tandas mantan Kasi PHU Kantor Kemenag Kabupaten Nganjuk ini.
Sayangnya, belum bisa dipastikan kapan anggaran untuk rehab tersebut turun dan bisa direalisasikan. Afif juga belum dapat memastikan berapa banyak biaya untuk penggantian tersebut. "Kami tunggu kabar selanjutnya dari kanwil," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Nganjuk Sujito mengatakan, kebakaran di MIN 1 Nganjuk karena korsleting listrik. Api cepat berkobar karena saat kejadian sekolah dalam kondisi kosong. Semua sudah tidur karena kejadian malam hari. Editor : Anwar Bahar Basalamah