Pukul 07.00 WIB kemarin. Sinar matahari sudah terang. Warga di Dusun Jabon, Desa Bareng, Kecamatan Sawahan sibuk beraktivitas. Emak-emak mencuci pakaian, anak-anak asyik bermain karena libur sekolah dan orang dewasa bekerja di kebun cengkih. Suhu sangat sejuk khas pegunungan. Di smartphone tertera 20 derajat celcius suhunya.
Terlihat Mbah Saidi sedang duduk termenung di depan tungku dengan api samar menyala. tangannya yang mulai keriput didekatkan ke arah tungku. Dia ingin menghangatkan tubuhnya.
“Mbah kung ada tamu,” panggil cucu perempuannya saat wartawan koran ini berkunjung ke rumahnya. Tanpa menjawab, pria yang hampir seluruh rambutnya dipenuhi uban itu bangkit dari kursi kayunya di dapur , menuju ruang tamu. Ia kemudian duduk di kursi busa berlapis beludru warna cokelat tua yang terlihat mulai memudar. "Kalau Suraan ini tidak ada tamu yang minta mencarikan hari untuk nikah atau khitanan," ujarnya.
Karena itu, Mbah Saidi terlihat santai. Apalagi, kondisinya juga tidak fit 100 persen. Sebelumnya, dia sempat sakit perut dan harus dirawat di puskesmas. "Kalau lagi gak ada tamu, iya ke sawah lagi," ungkapnya.
Meski tidak ada hajatan saat Sura, Saidi mengaku biasanya ada satu atau dua orang datang ke rumah. Biasanya mereka meminta bantuan ketika anaknya rewel. "Minta disuwuk," ujarnya.
Cara yang dilakukan untuk mengobati anak rewel ini berbeda dengan cara mencari hari baik untuk pernikahan. Karena biasanya pria berusia 76 tahun itu akan menggunakan hitungan Jawa dan koin untuk memilih hari baik. "Setiap orang itu punya hari baik dan buruk," katanya.
Yang menarik, Saidi tidak pernah mematok tarif. "Seikhlasnya saja. Karena saya hanya membantu," ujarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah