JP Radar Kediri - Penyanyi dangdut senior, Yunita Ababiel meninggal dunia pada Minggu dini hari, 13 Juli 2025, sekitar pukul 01.00 WIB di kediamannya Depok, Jawa Barat.
Kabar duka ini disampaikan oleh pihak keluarga melalui akun Instagram pribadi Yunita Ababiel.
"Telah berpulang ibu kami tercinta Hj. Yuyun Sri Wahyuni. Semoga Allah menerima amal ibadahnya, diberikan tempat terbaik di sisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," tulis pihak keluarga Minggu (13/7/2025).
Kini ungkapan duka atas wafatnya Yunita Ababiel mengalir dari berbagai kalangan, termasuk sesama musisi dangdut.
Salah satunya datang dari Rhoma Irama, yang menyampaikan belasungkawa melalui unggahan di media sosialnya.
“Telah berpulang ke rahmatullah, salah seorang insan dangdut tanah air, Hj. @yunitaababiel. Teriring do’a semoga Allah SWT menerima amal ibadah Almarhumah, dan mengampuni segala kesalahan beliau, serta mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah SWT,” tulis sang raja dangdut dalam unggahannya.
Yunita Ababiel Sakit Apa?
Perempuan 60 tahun itu wafat dalam perjuangan melawan penyakit kanker payudaranya.
Tidak diketahui sejak kapan Yunita Ababiel mengidap penyakit mematikan tersebut
Sebelum meninggal dunia, Yunita Ababiel dikabarkan sempat alami sakit.
Terlihat dalam unggahan akun media sosial @ijoyhatta berisi konten dukungan untuk Yunita. Pedangdut yang juga dikenal lewat lagu Setia Sampai Kiamat itu terlihat hendak menjalani operasi.
"Bismillah ya Ma @yunitaababiel. Semoga lancar operasinya hari ini. Mohon doanya ya Sobat Keceh. Biar diberi kelancaran dan Mama kembali sehat dan pulih biar bisa menghibur dengan karya-karya indahmu," tulis akun tersebut.
Baca Juga: Roy Suryo Siap Hadapi Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi, Polda Metro Naikkan Status ke Penyidikan
Sebagai informasi, Yunita dikenal luas di era 1990-an lewat lagu-lagu populernya seperti “Pertengkaran”, “Maha Cinta”, dan “Setia Sampai Kiamat”.
Kariernya yang panjang dan konsisten menjadikannya salah satu figur penting dalam belantika musik dangdut Indonesia.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan sesama musisi, dan para penggemarnya yang mengikuti perjalanan musiknya.
Editor : Shinta Nurma Ababil