KEDIRI KOTA- Banyaknya pasar ritel yang akhirnya gulung tikar, salah satunya karena perkembangan teknologi yang cukup pesat. Akibatnya, banyak konsumen yang akhirnya memilih untuk berbelanja melalui toko online dibandingkan harus datang ke department store.
Setidaknya, hal itu yang disinyalir oleh Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Kediri Muhammad Solikhin. Menurutnya, perkembangan e-commerce atau perdagangan secara online menjadi salah satu pemicu lesunya toko ritel. Sehingga jumlah pengunjung ke toko-toko tersebut menjadi berkurang. “Sekarang orang berbelanja semakin praktis. Cukup melalui ponsel atau di depan komputer,” kata Solikhin kepada wartawan koran ini.
Terlebih, di toko-toko online, ada banyak sekali pilihan. Harga yang ditawarkan juga lebih murah. Pasalnya, toko-toko online tersebut tidak membutuhkan biaya operasional yang besar. Karena itulah, tidak bisa disalahkan apabila banyak konsumen yang memilih untuk berbelanja online.
Solikhin tidak heran jika akhirnya Pasaraya Sri Ratu yang ada di Kota Kediri harus gulung tikar. Dia menyebut bahwa Sri Ratu Kediri termasuk yang cukup lama bertahan dibandingkan dengan kota-kota lainnya, seperti Madiun atau Pekalongan. “Ini fenomenanya tidak hanya terjadi di wilayah Kota Kediri. Tapi di kota-kota lainnya juga sama,” sambung lelaki yang juga menjadi direktur utama PT Somawi Surya Semesta itu.
Selain adanya persaingan dengan bisnis online, Solikhin menyebut kondisi pasar yang ada saat ini memang sedang lesu. Secara umum, daya beli masyarakat tidak bisa dipungkiri memang sedang menurun. Karena itulah, produk yang terjual di department store juga tidak bisa maksimal.
Seperti diberitakan, beberapa ritel di Kota Kediri mengalami kondisi yang memprihatinkan. Bahkan, per 31 Januari lalu department store Pasaraya Sri Ratu Kediri memutuskan untuk tutup. Selain itu, manajemen Ramayana Kediri juga menyebut adanya penurunan jumlah pengunjung hingga 20 persen.
Lantas, apakah bisnis ritel di Kota Kediri masih ada kemungkinan menjanjikan? Solikhin mengatakan, masih ada kemungkinan ‘pemain besar’ bisnis retail yang menanamkan investasinya di wilayah Kota Kediri. Hanya, dia tidak tahu apakah bisnis itu bisa bertahan lama atau tidak. “Kalau usaha ritel kemungkinan masih tetap bisa ada. Tapi kita tidak pernah tahu bagaimana respons dari masyarakat,” sambungnya,
Selama ini, lanjut Solikhin, Kota Kediri lebih dikenal sebagai kota jasa. Ini dikarenakan Kota Kediri tidak memiliki sumber daya alam (SDA) yang besar. Bahkan, untuk sektor pariwisata alam, juga masih kalah dengan daerah-daerah di sekitarnya, seperti Kabupaten Kediri, Kabupaten Trenggalek, atau Kabupaten Tulungagung.
Karena itu, dilihat dari sisi peluang usaha, saat ini yang masih ada peluang besar adalah bisnis kuliner. Ada baiknya, para pengusaha melirik peluang ini agar bisa ikut mendongkrak perekonomian Kota Kediri. “Kuliner masih cukup besarnya. Apalagi sekarang marak usaha di tingkat UMKM,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho