61 Persen Wilayah Indonesia Terlambat Hujan, Begitu Datang Langsung Hadapi Puncak

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 01:46 WIB
Ilustrasi Bencana : Afrizal Syaiful M/JPRK
Ilustrasi Bencana : Afrizal Syaiful M/JPRK

JP Radar Kediri – Mundurnya awal musim hujan tahun ini perlu diwaspadai masyarakat, terutama terkait potensi bencana hidrometeorologi basah.
 
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan 61,08 persen wilayah daratan Indonesia mengalami kemunduran awal musim hujan.
 
Sejumlah wilayah diprediksi baru memasuki musim hujan pada akhir Oktober hingga awal November.
 
Direktur Informasi Perubahan Iklim BMKG A. Fachri Radjab menjelaskan, mundurnya awal musim hujan tidak serta-merta menggeser waktu puncak musim hujan.
 
Puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan tetap berlangsung pada Desember hingga Februari.
 
"Musim awal musim hujan datangnya mundur, tapi puncaknya sama. Artinya puncak musim hujan akan tetap terjadi Desember, Januari, Februari," jelasnya.
 
Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena sejumlah wilayah berpotensi langsung menghadapi intensitas hujan tinggi ketika musim hujan mulai berlangsung.
 
Situasi ini berbeda dengan kondisi normal ketika musim hujan datang secara bertahap sebelum mencapai puncaknya pada bulan-bulan berikutnya.
 
"Kalau tanpa El Nino kan biasanya kita gradual ya," ujarnya. 

Baca Juga: Kemarau Diprediksi hingga Oktober, BPBD Kota Kediri Imbau Warga Waspadai Angin Kencang
 
Fachri menegaskan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah, terutama banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.
 
Risiko tersebut perlu diantisipasi seiring dengan potensi meningkatnya curah hujan ketika musim hujan mulai memasuki periode puncak.
 
Karena itu, masyarakat diimbau terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.
 
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan di wilayah rawan bencana, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi berlangsung dalam waktu lama. 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : BMKG
BMKG kemarau hujan bencana