BGN Uji Coba MBG Prasmanan di 60 Titik Dapur, Disajikan Makanan Hangat Langsung di Kelas

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 12:57 WIB
Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 5 Ngawen, Blora. (istimewa)
Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 5 Ngawen, Blora. (istimewa)

JP Radar Kediri – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba skema baru penyajian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di lingkungan sekolah. Melalui metode ini, makanan dari dapur pusat (central kitchen) diantar dalam kondisi hangat dan langsung disajikan di dalam kelas.

Kepala BGN Sudaryono mengungkapkan, uji coba tersebut telah berjalan di lebih dari 60 titik dapur sejak Senin (5/10). Langkah ini diambil untuk memastikan makanan yang diterima siswa tetap segar sekaligus memangkas jeda waktu antara proses memasak dan waktu makan.

"Per hari ini, tanggal 5, kami sudah piloting di lebih dari 60 dapur untuk sistem prasmanan di kelas. Jadi, makanan dibawa dalam kondisi hangat ke kelas, lalu disajikan langsung di sana," ujar Sudaryono kepada wartawan di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Senin.

Menurutnya, sistem prasmanan ini memiliki sejumlah keunggulan strategis. Selain menjaga cita rasa dan kesegaran makanan, penyajian langsung di kelas dinilai mampu menekan risiko penurunan kualitas makanan akibat terlalu lama di dalam perjalanan atau tertumpuk menunggu jam istirahat.

"Kami sedang menguji coba ini, mohon doa dan dukungannya agar bisa diperluas. Kelebihannya, makanan jadi lebih enak karena disantap saat masih hangat," imbuhnya.

Baca Juga: Pastikan Makanan MBG Aman Dikonsumsi, Kapolsek Kandat Ingatkan Karyawan SPPG Cegah Keracunan

Libatkan Siswa Lewat Budaya Piket ala Jepang

Meski tampak sederhana, penerapan sistem prasmanan ini menuntut koordinasi yang erat dengan pihak sekolah. Tanggung jawab pelayanan tidak lagi dibebankan sepenuhnya kepada petugas dapur, melainkan melibatkan para siswa secara aktif.

Sudaryono menjelaskan, sekolah-sekolah yang menjadi lokasi uji coba menerapkan sistem piket harian bagi siswa, menyerupai kebiasaan baik di sekolah-sekolah Jepang.

"Jadi, dalam sistem prasmanan ini, yang dilatih bukan hanya dapurnya, tetapi juga sekolahnya karena yang melayani adalah siswa. Siswa dilibatkan lewat sistem piket, mirip seperti di Jepang," kata Sudaryono.

Dalam praktiknya, siswa yang mendapat giliran piket dibekali perlengkapan standar kebersihan serta pelatihan tata cara penyajian. Mereka mengenakan celemek dan sarung tangan khusus, lalu bertugas melayani teman sekelas maupun guru mereka secara bergantian.

"Tentu butuh pelatihan yang cukup karena melibatkan pihak sekolah dan siswa. Nanti anak-anak memakai celemek dan sarung tangan. Ada sekitar lima sampai enam siswa yang piket untuk melayani teman-temannya serta guru," terangnya.

Jangkau Berbagai Wilayah dan Tekan Sisa Makanan

Uji coba skala luas ini sengaja digelar di berbagai region berbeda untuk memetakan tantangan di lapangan sebelum kebijakan diterapkan secara nasional. Berdasarkan catatan BGN, wilayah uji coba mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, hingga Papua. 

Baca Juga: Kasus Keracunan MBG di Kota Kediri, Ayam Katsu Juga Mengandung Kuman E.coli

"Kami sengaja melakukan piloting di banyak wilayah agar bisa melihat langsung berbagai persoalan yang mungkin muncul," ujar Sudaryono.

Dari hasil evaluasi sementara, respons dan efektivitas sistem prasmanan ini menunjukkan tren positif. Tingkat kepedulian siswa untuk menghabiskan makanan terpantau cukup tinggi.

Kondisi makanan yang masih segar dan hangat terbukti mampu menggugah selera makan anak-anak, sekaligus berdampak langsung pada penurunan volume sisa makanan (food waste).

"Hasilnya, sisa makanan atau waste menjadi jauh lebih sedikit karena menggunakan sistem prasmanan ini," pungkasnya.

Editor : Shinta Nurma Ababil
mbg prasmanan Mbg Makan Bergizi Gratis BGN