JP Radar Kediri - Peringatan hari tani nasional yang jatuh pada 24 september menjadi momentum untuk melihat kembali kondisi sektor pertanian, bukan hanya dari sisi produksi pangan, tetapi juga kesejahteraan petani, keberlanjutan lahan, perubahan iklim, hingga regenerasi petani.
Salah satu persoalan yang terus menjadi perhatian adalah kesejahteraan petani. Meski demikian, kondisi ekonomi petani menunjukkan perkembangan positif. Badan pusat statistik mencatat nilai tukar petani (ntp) nasional mencapai 129,19 pada Agustus 2026, naik dari 127,84 pada Juli. Ntp merupakan salah satu indikator yang menggambarkan daya tukar atau daya beli petani terhadap kebutuhan konsumsi dan biaya produksi.
Pemerintah juga terus mendorong peningkatan produktivitas sekaligus nilai ekonomi hasil pertanian. Wakil menteri pertanian menyebut perlindungan harga hasil panen, bantuan sarana produksi, peningkatan produktivitas, dan pendampingan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan petani.
Baca Juga: Hari Tani Nasional, Polres Kediri Sinergi dengan Pemda untuk Perkuat Gerakan Pangan Berbasis Petani
Adakah tantangan lahan pertanian dan ancaman perubahan iklim?
Tantangan lainnya adalah bagaimana menjaga lahan pertanian tetap produktif di tengah kebutuhan pembangunan. Pemerintah mendorong program optimalisasi lahan (oplah) dan cetak sawah rakyat untuk meningkatkan pemanfaatan lahan dan produksi pangan. Pada juni 2026, gerakan tanam serempak dilakukan di 25 provinsi dengan total areal mencapai sekitar 52.510 hektare.
Di saat yang sama, perubahan iklim membuat kegiatan pertanian semakin membutuhkan kemampuan beradaptasi. Perubahan pola cuaca, ketersediaan air, serta risiko kekeringan dan banjir dapat memengaruhi proses produksi. Karena itu, modernisasi pertanian dan praktik pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim menjadi bagian dari arah pembangunan pertanian ke depan.
Baca Juga: Pastikan Irigasi Lancar, Polsek Plosoklaten Dukung Produktivitas Petani
Bagaimana ketika anak muda yang akan menjadi penentu masa depan pertanian?
Persoalan yang tidak kalah penting adalah regenerasi petani. Pertanian membutuhkan generasi baru yang tidak hanya mampu bercocok tanam, tetapi juga memahami teknologi, pengelolaan usaha, pemasaran, dan inovasi.
Kementerian pertanian sendiri mendorong keterlibatan generasi muda melalui berbagai program, termasuk pengembangan brigade pangan dan dukungan sarana produksi serta pembiayaan. Tujuannya adalah mempercepat regenerasi petani sekaligus meningkatkan produksi pangan nasional.
Dengan demikian, pertanian masa kini tidak harus selalu dipandang sebagai pekerjaan tradisional. Teknologi digital, alat dan mesin pertanian, pengelolaan hasil panen, hingga pemasaran dapat membuka ruang baru bagi generasi muda untuk terlibat dalam sektor ini.
Baca Juga: Nilai Tukar Petani Meroket! Kesejahteraan Petani Kabupaten Kediri Terkerek Naik
Apakah ada pertanian dan masa depan pangan di indonesia?
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa hari tani nasional bukan sekadar peringatan tahunan. Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa masa depan pangan indonesia sangat berkaitan dengan masa depan petaninya.
Upaya meningkatkan kesejahteraan, menjaga produktivitas lahan, menghadapi perubahan iklim, dan menarik generasi muda ke sektor pertanian perlu berjalan beriringan. Pemerintah sendiri menempatkan regenerasi petani, pemanfaatan teknologi modern, serta pertanian berkelanjutan sebagai bagian dari arah pembangunan pertanian 2025–2029.
Masa depan pertanian indonesia tidak hanya ditentukan oleh luasnya lahan, tetapi juga oleh keberadaan petani dan generasi muda yang akan meneruskannya. Karena itu, menjaga pertanian berarti menjaga ketahanan pangan untuk masa depan..
Editor : Shinta Nurma Ababil