JP Radar Kediri – Langit malam di bulan September 2026 siap memanjakan mata para pencinta astronomi.
Sepanjang bulan ini, deretan fenomena kosmik yang luar biasa akan menghiasi tata surya kita, mulai dari momen pergantian musim yang ditandai dengan ekuinoks, hingga cantiknya pendaran Bulan Purnama Harvest Moon.
Berbagai kejadian langka di luar angkasa ini melibatkan dinamika objek langit seperti Matahari, Bulan, komet, planet, dan meteoroid.
Kabar baiknya, beberapa pemandangan eksotis tersebut bisa dinikmati langsung dengan mata telanjang.
Meski begitu, untuk pengalaman yang lebih maksimal, penggunaan alat bantu seperti teleskop tetap disarankan pada fenomena tertentu.
Merangkum dari In The Sky dan timeanddate, berikut adalah kalender tontonan langit malam yang wajib Anda nantikan di bulan September ini:
Konjungsi Bulan dengan Planet (6 dan 27 September) Fenomena konjungsi terjadi ketika benda-benda langit tampak saling berdekatan bak bersinggungan jika dipantau dari Bumi.
Tanggal 6 September nanti, satelit alami kita akan terlihat berdampingan dengan Planet Merah, Mars, tepat di kawasan konstelasi Gemini.
Baca Juga: Heboh Meteor di Langit Jogja hingga Cirebon, Ahli Astronomi Buka Suara
Tak berhenti di situ, momen konjungsi kembali terjadi pada 27 September saat Bulan bersanding dengan planet bercincin, Saturnus.
Fenomena Okultasi Bulan (8 dan 14 September) Bukan sekadar berdekatan, Bulan juga akan bergerak melintasi dan menutupi planet lain—sebuah peristiwa yang dikenal dengan istilah okultasi.
Tanggal 8 September, Bulan akan menyembunyikan Jupiter, namun pemandangan langka ini hanya terkonfirmasi bisa disaksikan di beberapa titik lintang tinggi, seperti wilayah timur Rusia.
Selanjutnya pada 14 September, giliran Venus yang akan tertutup oleh Bulan. Momen ini terlihat jelas dari Kuala Lumpur, sementara di kawasan lain keduanya hanya akan tampak sangat rapat di langit.
Titik Ekuinoks September (23 September) Tepat pada 23 September, posisi Matahari akan berada tegak lurus di atas garis khatulistiwa.
Fenomena ini membuat durasi siang dan malam di sebagian besar belahan Bumi menjadi seimbang, yakni masing-masing sekitar 12 jam.
Ekuinoks sekaligus menjadi alarm peralihan musim. Di belahan Bumi utara, ini menandai masuknya musim gugur di mana malam akan terasa lebih panjang. Sebaliknya, wilayah selatan ekuator akan menyambut datangnya musim semi.
5. Pesona Purnama Harvest Moon (26 September) Langit malam pada 26 September akan diterangi oleh Purnama Harvest Moon.
Dinamakan "Bulan Panen" karena cahaya ekstra yang dipancarkannya di awal malam memberikan tambahan waktu bagi para petani zaman dahulu untuk mengumpulkan hasil panen mereka.
Pada periode mendekati ekuinoks, selisih waktu terbitnya Bulan dari hari ke hari menjadi lebih singkat.
Baca Juga: Langit Lampung Heboh oleh Objek Bercahaya, Sampah Antariksa “Pulang” ke Bumi
Akibatnya, kita bisa menikmati terangnya cahaya bulan segera setelah sang surya terbenam selama beberapa malam berturut-turut.
Formasi Ikonik Rasi Bintang Cassiopeia Bagi Anda yang gemar mencari pola di langit malam, konstelasi Cassiopeia yang khas dengan bentuk huruf "W" atau "M" akan sangat mudah dijumpai sepanjang bulan ini.
Rasi bintang ini bersifat sirkumpolar, artinya ia tidak pernah tenggelam di bawah garis cakrawala jika dipantau dari wilayah utara di sekitar 34 derajat Lintang Utara.
Karena wujudnya yang sangat mencolok, Cassiopeia kerap dijadikan 'kompas' navigasi alami untuk menemukan galaksi Bima Sakti atau rasi bintang lainnya.
Pertunjukan Aurora (Efek Russell-McPherron) Bulan September juga menjadi salah satu momentum terbaik untuk 'berburu' cahaya kutub, baik aurora borealis maupun australis.
Frekuensi dan tingkat kecerahan aurora akan melonjak akibat kombinasi Efek Ekuinoks dan Efek Russell-McPherron.
Momen ini terjadi ketika medan magnet Bumi dan Matahari berada dalam tingkat kesejajaran yang optimal.
Kemiringan kutub magnet Bumi mempermudah partikel energi dari angin surya menembus magnetosfer kita. Hasilnya, tarian cahaya aurora akan tercipta lebih sering dengan warna yang jauh lebih tajam.
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : berbagai sumber