JOMBANG, JP Radar Kediri – Berakhirnya masa jabatan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tak lantas menghentikan aktivitas KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya di kancah internasional.
Setelah purnatugas dari struktur PBNU, Gus Yahya menyatakan akan kembali memberi perhatian lebih besar pada agenda dialog antaragama serta penguatan gerakan Islam Kemanusiaan atau Humanitarian Islam.
Fokus tersebut ditopang sejumlah lembaga internasional yang selama ini didirikannya. Salah satunya Center for Shared Civilizational Values (CSCV) atau Pusat Nilai-Nilai Peradaban Bersama.
Lembaga tersebut didirikan Gus Yahya dan berperan sebagai sekretariat permanen yang menangani serta mengelola pergerakan global forum Religion of Twenty (R20).
Forum tersebut menjadi wadah pertemuan para pemimpin agama dari berbagai negara untuk membangun percakapan mengenai nilai-nilai peradaban bersama.
Selain CSCV, Gus Yahya juga tercatat sebagai pendiri Bayt ar-Rahmah (Bayt ar-Rahmah Li ad-Da’wa al-Islamiyah Rahmatan li al-’Alamin), yayasan keagamaan global yang berbasis di Amerika Serikat.
Selama ini, kedua lembaga nirlaba tersebut bekerja bersama PBNU sebagai hub internasional untuk memperluas gerakan Humanitarian Islam.
Selain itu, keduanya turut menjadi bagian dalam penyelenggaraan dialog yang mempertemukan pemimpin agama dunia.
Baca Juga: LPJ PBNU Diterima Aklamasi saat Muktamar NU, Gus Yahya Akui Tak Terlepas dari Salah
Gus Yahya menyebut kerja tersebut merupakan bagian dari ikhtiar mempertemukan beragam tradisi keagamaan dalam pembahasan yang lebih luas. Terutama terkait isu kemanusiaan dan arah masa depan peradaban.
“Yayasan yang didirikan oleh saya, yang bertindak sebagai sekretariat permanen untuk mengurusi dan mengelola pergerakan global forum Religion of Twenty (R20), adalah Center for Shared Civilizational Values (CSCV) atau Pusat Nilai-Nilai Peradaban Bersama,” ujarnya.
Aktivitas internasional Gus Yahya pun bakal berlanjut setelah dirinya tak lagi memimpin PBNU.
Dia mengungkapkan, agenda ke Amerika Serikat telah disiapkan pada Desember mendatang.
Kunjungan tersebut akan diisi sejumlah pertemuan dan dialog bersama tokoh lintas agama.
“Desember bertolak ke Amerika untuk serangkaian kunjungan dan dialog dengan sejumlah tokoh antaragama,” kata Gus Yahya.
Dengan demikian, purnatugas dari kepengurusan PBNU tak menjadi akhir kiprah Gus Yahya di tingkat global.
Justru, ruang tersebut memberinya kesempatan untuk kembali mengembangkan agenda dialog antaragama, Humanitarian Islam, serta gagasan tentang nilai-nilai peradaban bersama.
Melalui CSCV dan Bayt ar-Rahmah, Gus Yahya tetap akan berada dalam jejaring internasional yang mempertemukan pemimpin agama, kalangan intelektual, dan berbagai elemen masyarakat.
Pertemuan tersebut diarahkan untuk membangun ruang dialog lintas keyakinan sekaligus mencari titik temu dalam menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri