JOMBANG, JP Radar Kediri - Bursa Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin memanas. Banyak nama yang muncul sebelum dilakukan pemilihan pada Sabtu (29/8) malam. Selain KH Yahya Cholil Staquf sang petahana yang digandengkan dengan KH Abdullah Kafabihi Mahrus atau Kiai Kafa yang dicalonkan menjadi Rais Aam, banyak nama lain yang muncul.
Seperti KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin yang merupakan Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Berikutnya ada KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, Ketua PWNU Jawa Tengah.
Ada pula KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, yang menyatakan kesiapan maju dalam bursa Ketum PBNU. Walau demikian, hingga kemarin siang, arah dari suara Pengurus Cabang NU (PCNU) Kediri Raya masih abu-abu.
Baca Juga: Muktamar NU Desak Evaluasi Menyeluruh Kopdes Merah Putih Seluruh Indonesia
Nama Gus Kikin menjadi salah satu kandidat yang menguat dalam bursa tersebut. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu secara terbuka menyatakan kesiapannya apabila dipercaya maju dalam pemilihan Ketum PBNU. "Kalau pemilihan (Ketua Umum PBNU), kesiapan, sudah pasti siap," tegas Gus Kikin.
Gus Kikin menyebut pencalonannya berawal dari dukungan PWNU Jawa Timur menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU. Dukungan tersebut kemudian juga datang dari sejumlah PWNU dan PCNU.
Jika mendapat amanah memimpin PBNU, Gus Kikin membawa sejumlah gagasan. Salah satunya menghidupkan kembali Qanun Asasi NU sebagai pijakan dalam menjalankan organisasi. "Ini yang ketika NU menjadi partai politik pada tahun 1952, kemudian ditinggalkan," terang Gus Kikin.
Selain itu, penguatan ekonomi NU menjadi perhatian lain. Besarnya jumlah warga NU dinilai dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola secara terarah. "Jumlah warganya yang begitu besar itu pasar ekonomi. Itu kalau ditata dengan baik insyaallah jadi satu nilai bagi ekonomi NU," papar Gus Kikin.
Sementara itu, nama Gus Rozin juga masuk dalam bursa. Ketua PWNU Jawa Tengah tersebut membawa gagasan yang disebutnya sebagai jalan tengah dan poros tengah. Ia mengaku membuka ruang kerja sama dengan seluruh pihak.
"Untuk bekerja sama dengan semua pihak. Nama kita yang kita usung adalah jalan tengah dan poros tengah. Semua yang sedang berbeda pendapat, kita ajak untuk bareng-bareng untuk membangun," ujar Gus Rozin.
Jika dipercaya memimpin PBNU, salah satu fokus yang ingin didorong ialah memperkuat keberadaan NU di luar Pulau Jawa. Aspirasi tersebut, kata dia, banyak datang dari daerah-daerah yang selama ini menghadapi tantangan dalam mengembangkan organisasi.
"Kami mendengar masukan-masukan dari berbagai daerah terutama di daerah yang jauh-jauh misalnya di NTT, misalnya di Maluku. daerah seperti Papua, Aceh. Semuanya menginginkan pengajian yang lebih terhadap NU di sana," jelasnya.
Menurut Gus Rozin, penguatan tersebut penting karena sejumlah wilayah memiliki tantangan tersendiri. Maluku Utara, misalnya, berada di kawasan yang berbatasan dengan Filipina dan memiliki isu kebangsaan yang perlu mendapat perhatian.
"Karena perjuangannya cukup keras. Di Maluku Utara misalnya berbatasan dengan perbatasan dengan Filipina. Ada isu-isu kebangsaan yang memang harus di kawal dan harus diperkuat di sana. Kalau perlu kita membuat pesantren di sana," tuturnya.
Selain memperkuat NU di luar Jawa, Gus Rozin juga menempatkan pesantren sebagai salah satu prioritas. "Pesantren itu backbone-nya NU. Jadi memperkuat pesantren sama dengan memperkuat backbone NU," tegasnya.
Baca Juga: Perketat Pengamanan di Muktamar ke-35 NU, Panitia Gunakan Teknologi Screening Peserta
Saat ditanya mengenai kesiapannya masuk dalam kontestasi Ketum PBNU, Gus Rozin memberikan jawaban tegas. "Insyaallah siap," imbuhnya.
Nama lain yang mencuat ialah Gus Yusuf. Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang tersebut membawa gagasan perubahan sekaligus rekonsiliasi internal NU.
Gus Yusuf menilai berbagai gesekan di tubuh organisasi selama beberapa tahun terakhir perlu segera diakhiri melalui Muktamar Ke-35 NU. Ia juga menyebut dukungan terhadap gerakan yang dibawanya telah datang dari ratusan PCNU.
"Ini menjadi peneguhan sikap dan tekad PC-PCNU yang bersama kita. Ada 235 PC yang bersama kita untuk kembali bertekad menjadikan muktamar ini muktamar yang solutif, muktamar yang menyelesaikan konflik," jelas Gus Yusuf.
Menurut Gus Yusuf, perubahan tata kelola organisasi membutuhkan dukungan mayoritas dalam pemilihan Ketum PBNU. Ia menempatkan kemenangan sebagai jalan untuk menjalankan agenda pembenahan yang ditawarkannya.
"Untuk mensukseskan itu semua tidak ada kata lain selain menang. Kita harus menang untuk menegakkan kebenaran. Kita harus menang untuk meluruskan jalan. Syaratnya hanya satu: menang," tegasnya.
Ia juga mendorong agar seluruh proses Muktamar berjalan sesuai AD/ART NU. Setiap kader, menurutnya, harus memperoleh ruang yang sama dalam kontestasi kepemimpinan.
"Maka mari kita selesaikan konflik ini secara konstitusional. Jangan lagi ada konflik. Kita memberikan ruang yang sama kepada seluruh kader-kader NU," ujar Gus Yusuf.
Sebelumnya, pihak Lirboyo juga mengusulkan Kiai Kafa menjadi Rais Aam yang bergandengan dengan gus Yahya sebagai Ketumnya. Walau sudah ada nama-nama yang mencuat itu, hingga kemarin siang, pengurus cabang amsih belum menentukan sikap.
Ketua PCNU Kota Kediri KH Abu Bakar Abdul Jalil atau Gus Ab mengatakan, pihaknya masih menunggu arahan dari Rais Syuriah NU Kota Kediri sebelum menentukan sikap terkait kandidat yang akan didukung. "Kita Nunggu Arahan Rois Syuriah NU Kota Kediri," ujarnya.
Baca Juga: LPJ PBNU Diterima Aklamasi saat Muktamar NU, Gus Yahya Akui Tak Terlepas dari Salah
Meski belum menentukan kandidat, PCNU Kota Kediri telah menyampaikan sejumlah harapan terhadap kepemimpinan PBNU periode mendatang. Salah satunya agar NU tetap konsisten menjalankan peran sebagai jam'iyyah diniyyah ijtimaiyyah.
"Harapan Secara Umum NU Tetep Pada Prinsip Perjuangan Jamiyyah Diniyyah Ijtimaiyyah. Untuk Mengawal Kemaslahatan Warga Serta Bangsa Dan Negara," katanya.
Selain menjaga prinsip perjuangan organisasi, transformasi di berbagai bidang juga dinilai perlu menjadi perhatian kepemimpinan PBNU ke depan. Salah satu sektor yang dinilai penting ialah digitalisasi. "Traspormasi di Segala Bidang. Seperti Digitalisasi," tegasnya.
PCNU KAbupaten Kediri juga belum menentukan sikap. Saat ditanyai terkait siapa pilihan PCNU Kabupaten jugamasih belum memberikan pilihan.
"Belum. Pleno 4 besok sore (kemarin)," ujarnya bahwa pihaknya masih akan fokus terhadap sistem pemilihan ketum dan rois aam. Untuk diketahui, sore kemarin hingga malam, masih dilakukan idang pleno empat salah satunya membahas terkait metode pemilihan ketua umum dan rois aam. yang beirkutnya juga dilanjut pemilihan ketum. (sad)
Editor : Andhika Attar Anindita