JP Radar Kediri – Warisan intelektual ulama Nusantara ternyata tak kalah kaya dibandingkan khazanah keilmuan dunia.
Bahkan, karya-karya ulama yang lahir dari pesantren di Jawa Timur dinilai memiliki potensi menjadi referensi keilmuan bagi dunia.
Hal tersebut tergambar dalam Pameran Turats NU yang digelar menjelang pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Pameran tersebut menampilkan berbagai turats atau warisan intelektual, pemikiran, hingga karya peradaban ulama terdahulu yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Utak-atik Angka di Muktamar NU, Prabowo: Saya Tidak Mengatur Ini Semua
Pameran dibuka oleh Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi.
Khofifah menyebut isi pameran menunjukkan betapa luasnya keilmuan ulama Nusantara. Tidak hanya berkutat pada kajian keagamaan. Sejumlah ulama terdahulu juga telah menghasilkan karya di bidang matematika hingga geopolitik.
“Beliau sudah merumuskan ilmu-ilmu aljabar, berarti tentang aritmatika, matematika itu sudah tahunan,” ujar Khofifah.
Dia mencontohkan karya ulama dari Pesantren Kemaruddin, Gresik. Di dalamnya terdapat pembahasan mengenai aljabar, aritmatika, dan matematika yang telah dirumuskan sejak ratusan tahun lalu. Tak hanya matematika.
Khofifah juga menemukan karya yang berkaitan dengan geopolitik, termasuk pemetaan kondisi dunia.
Belum lagi berbagai kitab keagamaan, tafsir, dan khazanah keilmuan lainnya.
Menurut dia, kekayaan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Jawa Timur, memiliki warisan intelektual yang layak diperkenalkan ke dunia.
“Peradaban dunia itu rasanya bisa berkhidmat ke Indonesia, terutama Jawa Timur,” tuturnya. Khofifah melihat ada momentum untuk menjadikan turats Nusantara sebagai salah satu rujukan dunia.
Apalagi perkembangan peradaban dunia yang sebelumnya bergerak dari Timur Tengah menuju Eropa dan Amerika.
Kini semakin banyak bergeser ke Asia. Termasuk kawasan ASEAN. Sejak sekitar 2010, Khofifah mengaku telah melihat peluang tersebut.
Baca Juga: Sekolah NU Dapat Layar Interaktif, Prabowo: Langsung Empat per Kelas
Menurutnya, moderasi dan penghargaan terhadap masyarakat multikultural sangat relevan dengan kebutuhan dunia saat ini.
“Bagaimana Islam mengajak moderasi, multikultur dan itu menjadi referensi yang sangat dibutuhkan oleh dunia,” kata Khofifah.
Upaya menggali kembali warisan tersebut kemudian menemukan titik penting pada 2019.
Khofifah melihat teknologi pemulihan manuskrip kuno yang sebelumnya menggunakan produk dari Jepang.
Dari sana muncul gagasan untuk membuat karya-karya ulama Nusantara kembali dapat dibaca dan dipelajari.
Manuskrip yang sebelumnya rapuh dan tulisannya sulit terbaca dapat diperkuat sekaligus ditampilkan kembali.
Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan untuk mendisplay karya ulama Nusantara di Riyadh, Arab Saudi. Respons yang diterima, kata Khofifah, sangat positif.
Diplomat, lembaga kearsipan pemerintah Saudi, hingga kalangan akademisi menunjukkan ketertarikan dan mulai menggali pemikiran ulama Nusantara.
“Minat dari diplomat-diplomat setempat, kemudian dari kearsipan pemerintah Saudi, dari akademisi itu luar biasa. Mereka kemudian menggali pikiran-pikiran dan kedalaman keilmuan ulama-ulama kita,” tandasnya.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri