Kemarau 2026 Pecahkan Rekor Suhu Tertinggi di Negara-Negara Eropa Sampai Picu Kebakaran Hutan, Begini Penjelasan Meteorologi Dunia

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 07:05 WIB
ilustrasi peta Benua Eropa.
ilustrasi peta Benua Eropa.

JP Radar Kediri – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sepanjang Juni hingga awal Juli 2026 memicu kebakaran hutan di sejumlah wilayah sekaligus memecahkan rekor suhu di berbagai negara.

Berdasarkan pembaruan Copernicus Climate Change Service (C3S) yang dipublikasikan melalui laman Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), kombinasi suhu tinggi, kekeringan, dan kelembapan udara yang rendah meningkatkan risiko kebakaran, terutama di Prancis dan Semenanjung Iberia. 

Gelombang panas bahkan masih berlanjut hingga Juli. Di Spanyol, Observatorium Fabra di Barcelona mencatat suhu mencapai 40,5 derajat Celsius pada 8 Juli, menjadi suhu tertinggi dalam lebih dari satu abad pengamatan.

Sementara di Prancis, pemerintah mengeluarkan peringatan oranye secara luas untuk menghadapi gelombang panas serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan akibat kondisi cuaca yang semakin kering.

Laporan C3S mencatat sejumlah negara mencetak rekor suhu baru selama Juni. Jerman mencatat suhu 41,7 derajat Celsius di Coschen pada 28 Juni, sementara Prancis mencatat suhu hingga 43,8 derajat Celsius di Pulluau.

Kota Bilbao di Spanyol mencapai 42,7 derajat Celsius, Hungaria mencatat 40,7 derajat Celsius, Austria tepat 40 derajat Celsius, sedangkan Polandia dan Republik Ceko juga memecahkan rekor suhu tertinggi masing-masing.

Baca Juga: Badai Pasir Tak Hanya Terjadi di Gurun, Indonesia Bisa Berdampak? Begini Penjelasan Organisasi Meteorologi Dunia

Inggris mencatat suhu 37,3 derajat Celsius, Belanda mencapai rekor nasional Juni sebesar 39,4 derajat Celsius, dan Denmark mencetak rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 37 derajat Celsius.

Tidak hanya suhu siang hari, suhu malam juga memecahkan rekor di sejumlah wilayah. Di Prancis, suhu minimum malam mencapai 22 derajat Celsius, sedangkan di Jerman sebuah stasiun cuaca di Saxony Timur mencatat suhu minimum 29,4 derajat Celsius.

Kondisi yang dikenal sebagai tropical night atau malam tropis itu membuat tubuh manusia kesulitan melepaskan panas sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Selain memperparah ancaman kesehatan, panas ekstrem juga menyebabkan kekeringan meluas di Eropa Barat dan Tengah.

Kondisi tanah yang semakin kering mempercepat penyebaran api dan meningkatkan risiko kebakaran hutan, terutama di Prancis selatan dan Semenanjung Iberia.

Baca Juga: Meteorologi Dunia Sebut Gletser Papua Tinggal 2 Persen, Prediksi Es Abadi Terakhir Indonesia Hilang Akhir 2026, ini Penyebabnya

WMO menyebut situasi tersebut menunjukkan dampak berlapis perubahan iklim yang memengaruhi cuaca, kesehatan, lingkungan, hingga aktivitas ekonomi.

WMO bersama badan meteorologi nasional dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus memperkuat sistem peringatan dini serta rencana aksi menghadapi gelombang panas.

Langkah itu diharapkan mampu mengurangi korban jiwa sekaligus membantu pemerintah mengambil keputusan lebih cepat dalam menghadapi risiko kebakaran hutan, kekeringan, dan cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlanjut.

Editor : Mahfud
Sumber : Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Radar Kediri
wmo kekeringan panas eropa el nino