JP Radar Kediri – Kali ini, nama dr. Anggi Aprilyani mendadak menjadi perbincangan hangat setelah video yang diunggah di akun TikTok pribadinya, @dokterbarbarreal, viral di berbagai platform.
Dalam video tersebut, sang dokter menceritakan pengalamannya saat mengunjungi sebuah Gereja Katolik di Manchester, Inggris, dan mengaku tiba-tiba merasa mual hingga ingin muntah.
Meski unggahan aslinya kini sudah tidak tersedia atau dihapus, jejak digital terlanjur menyebar luas. Berbagai akun di platform media sosial, termasuk akun gosip populer Instagram Lambe Turah, telah membagikan ulang video tersebut hingga memantik atensi jutaan pasang mata.
Baca Juga: Viral Karyawan Kopdes Merah Putih Terima Gaji hanya Rp76.000, Begini Kronologinya
Kronologi 'Cerita Seram' yang Menuai Polemik
Dalam potongan video yang beredar, dr. Anggi menceritakan momen tersebut dengan nada yang dianggap kurang pas oleh sebagian kalangan. Ia mengibaratkan suasana di dalam tempat ibadah tersebut seperti prosesi ruqyah.
"Cerita seram hari ini di Manchester kami masuk gereja, pengen tahu aja. Rupanya di dalam gereja ada orang kayak diruqyah, aku diam diam kok aku mau muntah ya. Aku bilang kayaknya aku kena ruqyah nih, ayo kabur," ujar Anggi Aprilyani yang saat itu tengah bersama temannya.
Sontak, pernyataan ini memicu reaksi keras dari warganet. Banyak yang menilai narasi yang dibangun sang dokter telah menyinggung keyakinan umat Katolik.
Tudingan bahwa konten tersebut mengandung unsur penistaan agama pun tak terhindarkan. Selain itu, publik menyayangkan sikap Anggi yang dinilai kurang bijak dan nir-empati dalam menggunakan media sosial, mengingat posisinya sebagai seorang esehatanal di bidang kesehatan.
Respons Damai di Tengah Tudingan Penistaan
Menariknya, di tengah pusaran perdebatan dan kecaman yang memanas, muncul sebuah oase peneduh dari warganet. Bukannya tersulut emosi, seorang pengguna media sosial yang mengaku beragama Katolik justru mengajak publik untuk menyikapi persoalan ini dengan kepala dingin.
"Saya sebagai seorang Katolik tulus memaafkan mereka ini, sebab mungkin mereka tidak tahu atau pengetahuan yang terbatas. Kalau ada yang tanya kenapa dimaafin? Itu kan jelas penistaan!," tulis netizen tersebut.
Lebih lanjut, ia memberikan penjelasan yang menyentuh terkait keputusannya untuk tidak merespons kebencian dengan kebencian baru.
"Maaf, di keyakinan kami, kasih itu yang utama, memaafkan siapapun tanpa kecuali. Entah kalau di ajaran keyakinan mereka, itu bukan urusan saya," tambahnya dengan tegas namun tetap santun.
Selain memberikan pemaafan, netizen tersebut juga menyoroti fenomena masyarakat yang mudah terpecah belah hanya karena konten sensasional. Ia berharap polemik mengenai video dr. Anggi Aprilyani tidak terus diperpanjang. Menurutnya, masih banyak persoalan fundamental di Tanah Air yang jauh lebih membutuhkan perhatian dan pengawalan serius dari masyarakat.
"Yuk teman-teman kasus ini kita sudahi, saat ini kita harus bersatu, banyak isu lain yang tidak kalah penting. Dolar 18 ribu, beras 15rb/kilo, cabai 63rb/kilo, asisten artis RA, Gibran bayar mahasiswa, MBG, UGM, dan lain-lain. Yuk bisa yuk kita kritis ke arah vertikal," pintanya.
Kasus ini menjadi pengingat berharga (remider) bagi para pengguna media sosial—terutama figur publik dan profesional—untuk lebih mengedepankan saringan etika dan toleransi sebelum membagikan konten. Di sisi lain, kedewasaan warganet dalam meredam konflik membuktikan bahwa literasi digital dan semangat keberagaman di Indonesia masih memiliki harapan yang kuat.
Editor : Shinta Nurma Ababil