JP Radar Kediri – Latihan dasar militer calon manajer Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) serta Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tengah bergulir.
Para peserta yang tergabung dalam Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) ini wajib mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) yang ketat. Nahas, di tengah upaya penggemblengan karakter tersebut, tiga peserta dilaporkan meninggal dunia.
Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) langsung mengambil langkah mitigasi.
Mengapa Calon Manajer Kopdes Merah Putih Wajib Mengikuti Latihan Dasar Militer?
Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir, Letkol (Mar) Agus Mutaqin menjelaskan, para calon manajer tidak hanya disiapkan untuk cakap berbisnis, tetapi juga memiliki mental dan fisik yang prima. Mereka harus melewati dua etape pelatihan yang terbagi dalam 45 hari.
"Tahap pertama adalah latihan dasar militer (latsarmil) selama 30 hari. Setelah itu, mereka akan menerima materi manajerial selama 15 hari," ungkap Letkol Agus saat ditemui di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (25/6/2026).
Pada sesi latsarmil, peserta dijejali materi kemiliteran dasar seperti Peraturan Baris-Berbaris (PBB) hingga latihan menembak pada pekan ketiga. Agus menegaskan, tujuan utama Latsarmil ini bukanlah sekadar unjuk kekuatan fisik, melainkan pembentukan karakter.
"Materi manajerial nantinya akan diberikan oleh narasumber sipil yang berkualitas dari Dinas Pertanian atau Kementerian Koperasi," tambah Agus.
Tiga Peserta SPPI Gugur di Medan Latihan
Di balik ketatnya latihan, duka mendalam datang dari tiga lokasi pendidikan yang berbeda. Tiga peserta SPPI dilaporkan meninggal dunia akibat kondisi kesehatan yang menurun drastis saat menjalani Latsarmil.
Kementerian Pertahanan melalui Karo Infohan Setjen Kemenhan, Brigjen Rico Ricardo Sirait, menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya ketiga calon penggerak ekonomi desa tersebut.
Berdasarkan catatan rekam medis, ketiga peserta meninggal karena kondisi sakit yang berbeda. Anisa Muyassaroh meninggal pada 18 Juni 2026 akibat heat stroke di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan.
Sehari sebelumnya (17/6), Yonanda Muhammad Taufiq mengembuskan napas terakhir karena henti jantung (cardiac arrest) di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja.
Terbaru, Novia Rahmadhani Sihotang meninggal dunia pada 23 Juni 2026 akibat penyakit tuberkulosis (TBC) setelah sempat dirujuk dan mendapat perawatan intensif di RSAU dr. Esnawan Antariksa dari Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.
Brigjen Rico memastikan bahwa seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis pertama dari tim kesehatan satuan sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit terdekat, termasuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa di Jakarta untuk mendiang Novia.
Pemerintah Evaluasi, Program Tetap Jalan
Merespons rentetan insiden ini, Istana Kepresidenan langsung buka suara. Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro menyatakan bahwa pemerintah tengah menyiapkan langkah mitigasi dan evaluasi komprehensif agar kejadian serupa tidak terulang di sisa masa pendidikan.
"Tentu hal terkait dengan peristiwa seperti itu akan ditangani sebaik-baiknya sesuai prosedur. Namun, ini dipisahkan dari kelanjutan program," tegas Juri di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (24/6).
Juri menjamin bahwa insiden ini tidak akan menghentikan langkah pemerintah dalam membangun kemandirian ekonomi desa melalui koperasi.
"Jadi program Koperasi Merah Putih tentu tetap lanjut," pungkasnya.
Editor : Shinta Nurma Ababil