KEDIRI, JP Radar Kediri – Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf memastikan tidak ada kader Nahdlatul Ulama (NU) yang terlibat praktik korupsi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penegasan itu disampaikan saat memaparkan capaian kepengurusan PBNU dalam Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Minggu (21/6).
Menurut Yahya, keterlibatan NU dalam berbagai program pemerintah semata-mata untuk membantu mnghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Karena itu, PBNU berupaya menjaga jarak dari kontestasi politik kekuasaan dan lebih memilih fokus pada pelayanan umat melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan.
Yahya menjelaskan, salah satu bentuk khidmah yang dilakukan NU saat ini adalah mendukung pelaksanaan program MBG yang menjadi agenda pemerintah. Menurutnya, NU ikut membantu agar manfaat program tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Baca Juga: Ini Alasan Gus Yahya Ingin Ada Sertifikasi Ulama dalam Munas-Konbes NU 2026
“Kenapa kita terlibat dalam urusan ini? Karena ini adalah agenda pemerintah yang dimaksudkan untuk maslahatan rakyat. Maka kita melibatkan diri untuk membantu menghadirkan, menghantarkan maslahat ini kepada rakyat,” ujarnya.
Di tengah munculnya berbagai isu dan tudingan terkait pelaksanaan program MBG, Yahya menegaskan kader-kader NU yang terlibat dalam program tersebut bekerja secara profesional dan tidak melkukan praktik yang melanggar aturan. Bahkan dia memastikan tidak ada satu pun kader NU yang terlibat dalam penyimpangan maupun korupsi.
“Kemarin ada yang juga, siapa yang terima jutaan-jutaan itu? Siapa yang menikmati? Siapa yang mengumpulkan? Wallahi tidak ada kader-kader kita yang melakukan itu,” tegasnya.
Yahya menyebut sejumlah kader NU yang terlibat dalam program tersebut seluruhnya bekerja dengan penuh tanggung jawab dan mengedepankan semangat pengabdian kepada organisasi serta masyarakat.
“Wong kader-kader kita Alissa Wahid, Ulin Nuha dan teman-teman tidak satu pun terlibat di dalam praktik-praktik yang tidak dibenarkan. Semuanya bekerja dengan sungguh-sungguh, kerja dengan khidmah yang total semata-mata untuk tabaruk kepada jam’iyah yang mulia ini,” jelasnya.
Lebih lanjut, Yahya menegaskan posisi NU saat ini bukan sebagai pihak yang terlibat dalam perebutan kekuasaan politik. Organisasi yang dipimpinnya justru berupaya mengambil peran sebagai mitra pemerintah dalam menghantarkan berbagai program kemaslahatan kepada masyarakat.
“Untuk NU, mari kita hanya berkhidmah semata-mata untuk riayatul ummah,” tandasnya. (sad)
Editor : Andhika Attar Anindita