KEDIRI, JP Radar Kediri - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggagas adanya standarisasi atau sertifikasi ulama sebagai bagian dari persiapan menuju Muktamar ke-35 NU.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat memaparkan capaian organisasi dan arah kebijakan PBNU dalam Pleno ke II Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU yang digelar di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Minggu (21/6).
Menurut Gus Yahya, langkah tersebut diperlukan karena saat ini semakin banyak orang yang mengaku sebagai ulama.
Namun di sisi lain pengakuan sebagai ulama itu tanpa memiliki parameter yang jelas.
Dalam pemaparannya, Gus Yahya menyebut PBNU mengusulkan penyusunan Piagam Nilai-Nilai Keulamaan. Dokumen itu nantinya menjadi salah satu agenda yang dibahas menjelang Muktamar ke-35 NU.
Baca Juga: Apa Bedanya Munas dan Konbes NU? Begini Penjelasan dari Amin Said Husni PBNU
Menurutnya, tujuannya bukan untuk mengatur ulama, melainkan memberikan rujukan kepada masyarakat mengenai kriteria ulama yang benar-benar memiliki kapasitas keilmuan, sanad, akhlak, dan pengabdian sebagaimana tradisi ulama pesantren.
“Yang paling kita pikirkan adalah bagaimana warga awam ini mampu mengenali, punya rujukan sebagai dasar untuk mengenali siapa sebenarnya ulama itu. Sekarang sudah terlalu banyak orang mengaku ulama dan warga awam tidak tahu mana yang ulama benar dan mana yang tidak,” tegasnya.
Menurut Gus Yahya, piagam tersebut diharapkan menjadi referensi bagi masyarakat di tengah semakin maraknya platform dakwah dan media sosial.
Saat ini masyarakat dapat dengan mudah mengakses ceramah keagamaan, namun tidak selalu mengetahui latar belakang maupun kapasitas orang yang menyampaikan materi keagamaan tersebut.
Baca Juga: Kenapa Munas-Konbes Digelar di Kediri dan Ditutup di Bangkalan? Begini Penjelasan PBNU
Selain untuk masyarakat umum, piagam tersebut juga disiapkan sebagai pedoman bagi kader-kader muda NU yang bercita-cita menjadi ulama.
Generasi muda perlu memiliki panduan yang jelas mengenai nilai, tanggung jawab, serta kapasitas yang harus dimiliki seorang ulama.
Dalam pemaparan yang juga berisi laporan capaian kepengurusan PBNU tersebut, Gus Yahya menegaskan bahwa perkembangan ruang dakwah saat ini menuntut adanya rujukan yang jelas mengenai figur ulama.
Jika dahulu masyarakat belajar agama melalui pesantren dan sanad yang terjaga, kini dakwah berkembang di berbagai ruang publik sehingga masyarakat membutuhkan pedoman untuk memilih rujukan keagamaan yang tepat.
“Kalau dulu pengajian itu di pondok-pondok pesantren. Hari ini pengajian di lapangan-lapangan dan berbagai platform. Kita tidak tahu siapa yang mengajar di situ. Karena itu warga perlu mendapatkan rujukan,” tandasnya.
Baca Juga: Sterilkan Area Jelang Pembukaan Munas Konbes NU, Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf Cek Persiapan Akhir
Sementara itu, Wakil Rais Aam PBNU KH Anwar Iskandar, dalam arahannya, Anwar menekankan agar Munas dan Konbes menghasilkan keputusan-keputusan strategis sebagai bekal organisasi menuju Muktamar ke-35.
Menurut dia, forum harus melahirkan kebijakan yang memperkuat peran pesantren sebagai pusat kaderisasi ulama dan penjaga ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Selain itu, diperlukan langkah konkret untuk memperluas dakwah melalui platform digital agar mampu menjangkau generasi muda di tengah derasnya arus informasi.
“Dari pesantrenlah akan lahir kader-kader ulama yang paham tentang basic ideologi Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
Anwar juga meminta Munas dan Konbes merumuskan upaya menjaga warga NU dari pengaruh berbagai paham yang dinilai menyimpang dari manhaj organisasi.
Di saat yang sama, forum diharapkan menghasilkan rekomendasi untuk memperkuat kemaslahatan umat melalui bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pelayanan sosial.
Tidak hanya itu, dia menilai Munas dan Konbes perlu menghadirkan keputusan yang mampu mengonsolidasikan berbagai potensi warga NU yang tersebar di berbagai sektor profesi.
Mulai kalangan akademisi, pengusaha, tenaga kesehatan, birokrat, politisi, hingga profesional di bidang teknologi.
Dia menambahkan, berbagai keputusan yang dihasilkan dalam Munas dan Konbes harus semakin memperkuat karakter NU sebagai organisasi ulama sekaligus organisasi kemasyarakatan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Editor : Mahfud