KEDIRI, JP Radar Kediri - Pemilihan Kabupaten Kediri sebagai lokasi Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama bukan tanpa alasan.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sengaja memilih Pondok Pesantren Al Falah Ploso sebagai tempat pelaksanaan forum tertinggi sebelum muktamar itu karena ingin menegaskan kembali hubungan erat antara NU dan pesantren.
Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori menjelaskan, NU lahir dari rahim pesantren. Karena itu, kegiatan-kegiatan strategis organisasi harus tetap berpijak pada tradisi pesantren sebagai basis utama lahir dan berkembangnya Nahdlatul Ulama.
“NU ini lahir dari pondok pesantren. NU dan pesantren itu sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Bagaikan satu mata uang. NU tidak bisa meninggalkan pesantren dan pesantren juga tidak bisa meninggalkan NU,” ujarnya.
Menurut Kiai Said, hubungan tersebut bahkan pernah digambarkan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Bahwa pesantren merupakan NU dalam skala kecil, sementara NU adalah pesantren dalam skala besar.
“Yang sering dikatakan Gus Dur, pesantren itu NU kecil dan NU itu pesantren besar,” imbuhnya.
Selain memiliki keterkaitan filosofis dengan sejarah NU, Ponpes Al Falah Ploso juga dinilai mempunyai posisi penting dalam perkembangan organisasi.
Baca Juga: Munas-Konbes NU 2026 Resmi Dibuka, Gus Yahya Ajak Warga NU Jaga Persatuan dan Ketulusan Khidmah
Pesantren yang didirikan oleh KH Ahmad Djazuli Utsman tersebut telah melahirkan banyak alumni yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
“Ploso ini punya sejarah panjang. Alumni-alumninya tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Karena itu PBNU sepakat menyelenggarakan Munas dan Konbes di pesantren ini,” katanya.
Tak hanya pelaksanaan Munas-Konbes yang dipusatkan di Kediri, PBNU juga merencanakan rangkaian penutupan kegiatan di Kabupaten Bangkalan, Madura.
Pemilihan lokasi itu juga dilandasi pertimbangan historis yang kuat.
Bangkalan merupakan tempat bermukimnya Syekhona KH Muhammad Kholil Bangkalan, ulama besar yang memiliki peran penting dalam lahirnya Nahdlatul Ulama.
Melalui isyarat dan restunya, KH Hasyim Asy'ari kemudian mendirikan Jam'iyah Nahdlatul Ulama pada 1926.
“Kenapa penutupan direncanakan di Bangkalan? Karena NU berdiri dari Bangkalan. Kita tahu bagaimana Syekhona Muhammad Kholil Bangkalan memberikan isyarat kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari untuk mendirikan Nahdlatul Ulama,” jelasnya.
Menurut dia, rangkaian kegiatan yang menghubungkan Kediri dan Bangkalan tersebut sekaligus menjadi sarana pendidikan sejarah bagi generasi muda NU.
PBNU ingin memastikan warga NU, khususnya kalangan muda, tetap memahami akar sejarah organisasi dan sanad keulamaan para pendirinya.
“Ini untuk mengingatkan kembali kepada kita, terutama anak-anak muda, agar tidak terputus sejarahnya,” tegasnya.
Selain aspek sejarah, terdapat pula pertimbangan spiritual yang menjadi dasar pemilihan Bangkalan sebagai lokasi penutupan kegiatan.
Para peserta Munas-Konbes direncanakan melakukan ziarah dan tawassul kepada para ulama pendiri NU sebagai bentuk penghormatan sekaligus memohon keberkahan.
“Kita ingin istighasah, mujahadah, memohon kepada Allah melalui tawassul kepada para ulama dan para muassis Nahdlatul Ulama. Tawassul bagi warga NU merupakan sesuatu yang jelas dan menjadi bagian dari tradisi yang terus dijaga,” ungkapnya.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, PBNU berharap Munas-Konbes tidak hanya menghasilkan keputusan-keputusan organisasi.
Namun juga memperkuat hubungan warga NU dengan pesantren, sejarah berdirinya organisasi, serta sanad spiritual para ulama pendiri Nahdlatul Ulama.
Editor : Andhika Attar Anindita