KEDIRI, JP Radar Kediri – Tidak semua daerah memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap dampak El Nino.
Hasil analisis BMKG menunjukkan terdapat perbedaan respons produksi beras terhadap perubahan curah hujan di setiap wilayah.
Ketua Meteorologi Publik BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri Satria Kridha Nugraha menjelaskan, wilayah dengan tingkat kerentanan tertinggi berada di Kabupaten Nganjuk.
Sementara Ngawi dinilai menjadi daerah yang paling tangguh menghadapi pengaruh El Nino.
“Respon produksi beras terhadap curah hujan ini berbeda antar wilayah. Wilayah yang paling tinggi yang warna merah itu ada di Nganjuk, Blitar dan Pacitan,” ujarnya.
Menurut dia, wilayah-wilayah tersebut menunjukkan penurunan produksi beras yang cukup besar ketika curah hujan berkurang. Kondisi itu mengindikasikan masih tingginya ketergantungan sektor pertanian terhadap hujan.
“Artinya begitu curah hujan turun, produksi beras juga akan ikut turun,” jelasnya.
Sebaliknya, Ngawi menjadi daerah yang paling tangguh dalam analisis tersebut. Produksi beras di wilayah itu relatif lebih stabil meski terjadi penurunan curah hujan.
“Dan Ngawi ini kalau saya baca datanya Ngawi merupakan lumbung padi nasional. Jadi produksinya sangat tinggi sekali dan alhamdulillah di sini paling aman,” katanya.
Kabupaten Kediri berada di antara kedua kondisi tersebut. Dampak El Nino tetap ada, namun tidak sebesar wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap perubahan curah hujan.
Editor : Andhika Attar Anindita