JP Radar Kediri - Pembubaran acara nobar atau nonton bareng film berjudul Pesta Babi viral. Film Pesta Babi pada dasarnya menceritakan kehidupan masyarakat adat seperti suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang disebut kehilangan tanah dan ruang hidup akibat ekspansi proyek perkebunan tebu, sawit, hingga food estate.
Mengambil latar di wilayah Papua Selatan, terutama di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, film dokumenter tersebut menggambarkan bagaimana hutan-hutan adat dibuka untuk proyek bioetanol dan ketahanan pangan dalam skala besar.
Di sisi lain, masyarakat lokal merasa tersingkir dari tanah leluhur mereka sendiri.
Narasi yang dibangun film ini cukup keras karena menyebut situasi tersebut sebagai bentuk “kolonialisme modern” atas Papua. Film juga menyoroti dugaan militerisasi dalam pengamanan proyek-proyek investasi di kawasan tersebut.
Salah satu simbol penting dalam film adalah pemasangan “salib merah” oleh warga adat sebagai bentuk penolakan terhadap perusahaan dan penguasaan lahan.
Baca Juga: Film Pesta Babi Tentang Apa? Ini Isu yang Diangkat Hingga Viral Acara Nobar Dibubarkan
Lantas apa alasan pembubaran nobar film pesta babi?
Keputusan Kodim 1501/Ternate membubarkan acara nonton bareng (nobar) film berjudul Pesta Babi itu diungkapkan Komandan Kodim (Dandim) 1501/Ternate Kolonel Infanteri Jani Setiadi.
Ia menyatakan melakukan hal itu lantaran hanya ingin menjaga situasi Kota Rempah tetap kondusif.
Dalam keterangan resmi yang disampaikan pada Sabtu (9/5), Kolonel Jani menyampaikan bahwa pihaknya sudah mengedepankan langkah dialog persuasif dan pendekatan humanis.
Dia tidak menampik, instansinya memang melarang kegiatan nonton bareng dan dialog interaktif itu. Sebab, dia melihat ada potensi kegiatan tersebut bisa memicu keresahan di Ternate.
“Kami ingin memastikan Ternate tetap aman dan nyaman bagi siapa saja. Oleh karena itu, kami melakukan pendekatan secara humanis kepada pihak penyelenggara. Kami mengimbau agar kegiatan ini tidak dilanjutkan demi mencegah isu SARA yang dapat merusak persaudaraan kita di Kota Rempah ini,” ucap Jani.
Baca Juga: Intip Cerita Film Zona Merah, Para Zombi yang Syuting di Bandara Dhoho hingga Hutan Satak
Menurut perwira menengah TNI AD dengan tiga kembang di pundak itu, larangan acara nobar film Pesta Babi dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. Dia tidak ingin gesekan sosial terjadi akibat isu-isu sensitif yang dapat memengaruhi persatuan dan kerukunan di antara warga Ternate.
Sebelum mengambil langkah antisipatif, Kodim 1501/Ternate telah berkoordinasi dengan Polres Ternate. Berdasar hasil pengecekan, kegiatan yang melibatkan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Ternate bersama sejumlah organisasi mahasiswa tersebut diketahui belum memiliki izin resmi dari pihak kepolisian setempat.
Di samping perizinan, aparat juga mencermati materi dan tema kegiatan yang dinilai sensitif bagi masyarakat. Penggunaan judul film dan spanduk bertuliskan Pesta Babi dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan memancing reaksi negatif di tengah masyarakat yang majemuk. Apalagi bila dikaitkan dengan isu SARA dan konflik sosial yang pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Crocodile Tears Tayang 7 Mei 2026, Film Psikologis Indonesia yang Sudah Keliling 30 Festival Dunia
”TNI tidak melarang kegiatan diskusi selama dilaksanakan sesuai prosedur, memiliki izin, dan materi yang disampaikan tidak menimbulkan potensi konflik di tengah masyarakat,” ujarnya.
Jani menegaskan bahwa pihaknya tetap menghargai kebebasan berpendapat dan ruang diskusi bagi masyarakat, jurnalis, maupun mahasiswa. Namun demikian, keselamatan dan ketenangan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Aparat keamanan bersama unsur terkait di Ternate masih terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak penyelenggara guna memastikan situasi tetap aman dan terkendali.
Editor : Shinta Nurma Ababil