JP Radar Kediri – Fenomena langit tahunan, hujan meteor Lyrid, kembali dapat disaksikan di Indonesia pada April 2026.
Peristiwa astronomi ini menjadi salah satu momen yang dinanti para pecinta langit karena menghadirkan “bintang jatuh” yang melintas cepat dan terang di malam hari.
Berdasarkan data dari NASA dan laporan National Geographic, hujan meteor Lyrid aktif sejak 17 hingga 26 April, dengan puncaknya terjadi pada 21–22 April.
Pada kondisi ideal, fenomena ini mampu menghasilkan sekitar 18 meteor per jam.
Waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor Lyrid di Indonesia terjadi pada Rabu malam, 22 April hingga Kamis dini hari, 23 April 2026.
Baca Juga: Pink Moon di April 2026, Benarkah Bulan Akan Berwarna Merah Jambu? Ini Jawabannya
Pengamatan paling optimal dilakukan mulai pukul 01.00 hingga menjelang subuh sekitar pukul 05.00 WIB.
Waktu dini hari menjadi momen ideal karena rasi Lyra (titik asal kemunculan meteor) baru terbit cukup tinggi di langit utara hingga timur laut setelah tengah malam, sehingga peluang melihat meteor menjadi lebih besar.
Apa Itu Hujan Meteor Lyrid?
Hujan meteor Lyrid terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan oleh komet C/1861 G1 Thatcher.
Partikel debu ini masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 47kilometer per detik, lalu terbakar akibat gesekan udara.
Proses inilah yang menghasilkan kilatan cahaya yang dikenal sebagai meteor atau “bintang jatuh”.
Baca Juga: Aurora 2026 Akan Jadi yang Terindah, Tapi Kenapa Indonesia Selalu 'Absen'? Ini Faktanya
Nama “Lyrid” sendiri diambil dari rasi Lyra, karena meteor tampak berasal dari area tersebut.
Fenomena ini juga tercatat sebagai salah satu hujan meteor tertua dalam sejarah. Catatan pengamatan pertama berasal dari Tiongkok pada tahun 687 SM, atau lebih dari 2.700 tahun lalu.
Berbeda dengan beberapa wilayah lain yang masih terganggu cahaya bulan, kondisi langit di Indonesia tahun ini justru tergolong ideal untuk pengamatan.
Bulan sabit diperkirakan sudah terbenam sebelum tengah malam, sehingga saat puncak hujan meteor Lyrid terjadi pada dini hari, langit berada dalam kondisi gelap tanpa gangguan cahaya bulan.
Situasi ini membuat meteor, termasuk yang cenderung redup, lebih mudah terlihat dengan mata telanjang.
Baca Juga: Blood Moon 2026: Ini Penyebab Ilmiah Mengapa Bulan Tampak Merah Saat Gerhana Total
Tips Mengamati Hujan Meteor
- Cari tempat terbuka, seperti lokasi yang jauh dari lampu jalan atau gedung tinggi. Area persawahan atau lapangan terbuka bisa menjadi pilihan tepat.
- Mata telanjang, nasa menyarankan untuk tidak menggunakan teleskop atau binokular.
Alat tersebut memiliki sudut pandang sempit, padahal meteor bisa muncul di bagian langit mana saja secara tiba-tiba.
- Berikan waktu 20–30 menit bagi mata untuk terbiasa dengan kegelapan agar bisa menangkap kilatan cahaya yang paling redup sekalipun.
- Siapkan posisi duduk atau berbaring yang nyaman, karena mengamati langit membutuhkan kesabaran.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil