JP Radar Kediri – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkenalkan serangga penyerbuk baru asal Tanzania sebagai langkah strategis dalam meningkatkan produktivitas kelapa sawit nasional.
Inovasi ini dinilai penting untuk menjawab tantangan penurunan efektivitas penyerbukan yang mulai dirasakan dalam beberapa tahun terakhir.
Pengenalan serangga tersebut dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Unit Marihat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Badan Karantina Indonesia, serta pelaku industri sawit.
Serangga penyerbuk memiliki peran krusial dalam proses reproduksi tanaman kelapa sawit, khususnya dalam pembentukan buah atau fruit set.
Baca Juga: Pemerintah Relokasi Warga dan Tumbangkan Pohon Sawit di Tesso Nilo untuk Selamatkan Hutan
Selama ini, Indonesia mengandalkan spesies Elaeidobius kamerunicus yang telah digunakan sejak 1980-an.
Kehadiran serangga ini sebelumnya terbukti mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan dan menjadi salah satu faktor penting dalam kesuksesan industri sawit nasional.
Namun, perkembangan varietas tanaman sawit yang semakin unggul dengan tandan buah lebih padat justru membawa tantangan baru.
Struktur tandan yang rapat membuat akses serangga penyerbuk menjadi terbatas, sehingga proses penyerbukan tidak berjalan optimal.
Hal ini berdampak pada penurunan tingkat keberhasilan pembentukan buah.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah mengintroduksi tiga spesies serangga penyerbuk baru dari Tanzania, yaitu Elaeidobius subvittatus, Elaeidobius kamerunicus (varian berbeda), dan Elaeidobius plagiatus.
Ketiga spesies ini dipilih karena dinilai memiliki kemampuan adaptasi dan efektivitas yang lebih baik dalam menjangkau struktur bunga kelapa sawit yang lebih kompleks.
Sebelum diperkenalkan secara luas, ketiga serangga tersebut telah melalui proses penelitian dan pengujian yang ketat.
Tahapan ini meliputi eksplorasi di negara asal, pengujian di laboratorium, hingga analisis terhadap keamanan hayati.
Pemerintah memastikan bahwa serangga tersebut tidak membawa penyakit, tidak mengganggu ekosistem lokal, serta tidak berpotensi menjadi spesies invasif.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa ketiga spesies penyerbuk tersebut aman dan berpotensi meningkatkan efektivitas penyerbukan secara signifikan.
Dengan demikian, kehadirannya diharapkan dapat memperkuat sistem penyerbukan alami yang selama ini menjadi tulang punggung produksi kelapa sawit.
Selain meningkatkan produktivitas, penggunaan serangga penyerbuk alami juga dinilai mampu menekan biaya produksi.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong praktik perkebunan kelapa sawit yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil