Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

BMKG dan PJT 1 Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Danau Toba, Antisipasi Dampak Kemarau 2026

Khansa Dhiya Ramadhania • Minggu, 12 April 2026 | 10:45 WIB
Ilustrasi Operasi Modifikasi Cuaca
Ilustrasi Operasi Modifikasi Cuaca

JP Radar Kediri – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Perum Jasa Tirta I menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara.

Operasi ini dilakukan sebagai langkah strategis dalam menghadapi potensi musim kemarau tahun 2026.

Kegiatan ini dilaksanakan mulai 9 April hingga 3 Mei 2026 dengan fokus pada wilayah tangkapan air Danau Toba.

Operasi tersebut bertujuan meningkatkan curah hujan guna menjaga ketersediaan air yang belakangan mengalami penurunan akibat minimnya intensitas hujan.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Masih Mengintai Kediri Raya, BMKG Imbau Waspada Hujan Lebat Singkat 

Danau Toba merupakan salah satu sumber daya air penting di Indonesia. Selain berfungsi sebagai destinasi pariwisata nasional, danau ini juga dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi, penyediaan air baku, hingga mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air.

Penurunan volume air berpotensi mengganggu berbagai sektor tersebut, sehingga diperlukan langkah antisipatif sejak dini.

Dalam pelaksanaannya, OMC dilakukan melalui metode penyemaian awan menggunakan pesawat.

Dalam operasi tersebut, tim menyiapkan sekitar 30 ton bahan semai yang akan disebarkan menggunakan pesawat Cessna Grand Caravan dengan registrasi PK-SNK milik PT Smart Cakrawala Aviasi (SCA).

Baca Juga: Potensi Karhutla 2026 Meningkat, BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Lonjakan Hotspot

Bahan semai seperti natrium klorida disebarkan ke awan potensial untuk merangsang proses kondensasi sehingga hujan dapat terjadi lebih cepat di wilayah yang ditargetkan.

Pada hari pertama pelaksanaan, dilakukan dua kali penerbangan (sorti) untuk memaksimalkan potensi pertumbuhan awan di wilayah daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba.

Langkah ini dinilai efektif sebagai upaya mitigasi awal, terutama pada masa peralihan musim ketika potensi awan hujan masih tersedia.

Dengan memaksimalkan kondisi atmosfer tersebut, diharapkan cadangan air di Danau Toba dapat meningkat sebelum memasuki puncak musim kemarau.

Baca Juga: BMKG Warning! Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang, El Nino Mengancam

Operasi Modifikasi Cuaca merupakan teknologi rekayasa atmosfer yang digunakan untuk mengendalikan curah hujan sesuai kebutuhan.

Di Indonesia, teknik ini tidak hanya dimanfaatkan untuk mengatasi kekeringan, tetapi juga untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, serta mendukung kelancaran kegiatan besar, termasuk arus mudik Lebaran kemarin.

Sebelumnya, OMC juga telah diterapkan di berbagai daerah sebagai bagian dari strategi penanganan cuaca ekstrem oleh pemerintah daerah dan instansi terkait.

Melalui kegiatan ini, BMKG berharap stabilitas ketersediaan air di Danau Toba dapat terjaga sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat serta mendukung keberlanjutan sektor energi dan pertanian.

Baca Juga: Apa Itu Godzilla El Nino? Ketika Raksasa Pasifik Mengancam Iklim Indonesia

Selain itu, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya adaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin berdampak pada pola cuaca di Indonesia.

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel. 

Editor : Shinta Nurma Ababil
#musim kemarau 2026 #Rekayasa Cuaca Indonesia #Operasi Modifikasi Cuaca #BMKG #danau toba