JP Radar Kediri- Di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mencapai 115 dollar AS per barel, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengadakan rapat dengan badan usaha swasta pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) demi mencari formulasi harga di tengah krisis energi dunia.
Bahlil menyampaikan bahwa hingga saat ini masih terus di lakukan perundingan. Di sampaikan bahwa pemerintah sedang berupaya untuk mengatur dan mencari formulasi yang tepat dan bijaksana.
“Mengenai dengan harga BBM nonsubsidi, kami sedang melakukan pembahasan. Pembahasan ini tentu melibatkan badan swasta lainnya,” ujar Bahlil ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin.
Perihal harga minyak dunia, di ketahui jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) saat ini berada di atas 100 dolar AS per barel.
Baca Juga: Harga BBM Masih Aman, Menkeu Purbaya Siap Tambah Rp100 T untuk Subsidi Energi
Dimana lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel.
Bahlil tetap menjamin pasokan energi aman dan harga tetap flat, untuk menepis isu kenaikan harga. Keputusan ini diambil berdasarkan arahan pemerintah setelah melakukan koordinasi lintas kementerian dan mempertimbangkan kondisi ekonomi saat ini.
Di ketahui bahwa Harga BBM subsidi tetap berlaku, dengan Pertalite di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Seperti yang telah di sampai kan dalam berbagai wawancara oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, di pastikan bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun ini.
Purbaya menyampaikan, bahwa pihaknya sudah mempersiapkan langkah-langkah mitigasi serta memperhitungkan ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jika di lihat adanya kenaikan harga minyak dunia. (Hima)
Editor : Andhika Attar Anindita