JP Radar Kediri – Baru-baru ini, langit Lampung menjadi sorotan setelah muncul penampakan objek bercahaya yang melintas dengan sangat cepat.
Banyak warga awalnya mengira itu adalah komet atau meteor yang akan jatuh ke bumi.
Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan mengejutkan bahwa objek tersebut adalah sampah antariksa yang kembali memasuki atmosfer bumi.
Fenomena Langka di Indonesia
Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN menjelaskan bahwa jatuhnya sampah antariksa hingga terlihat dengan mata telanjang di wilayah Indonesia termasuk kejadian langka.
Objek yang terbakar di langit Lampung itu diduga merupakan bagian dari roket atau satelit tua yang sudah tidak berfungsi.
Baca Juga: Lautan Bercahaya! Fenomena Bioluminescence yang Mengubah Pantai Menjadi Negeri Dongeng
Saat memasuki atmosfer, objek-objek ini bergerak dengan kecepatan ribuan kilometer per jam. Gesekan dengan udara menghasilkan panas ekstrem sehingga benda tersebut berpijar seperti ekor komet.
Meskipun terlihat indah, fenomena ini menunjukkan bahwa masalah sampah antariksa sudah mengkhawatirkan.
100 Juta Ton “Bom Waktu”
Data terbaru memperkirakan terdapat lebih dari 100 juta ton sampah antariksa mengelilingi bumi.
Sampah ini beragam ukurannya, mulai dari satelit mati, tingkatan roket yang terlepas, hingga serpihan cat kecil.
Sampah ini terlihat bercahaya karena Di ruang hampa, benda sekecil baut bisa bergerak hingga 28.000 km/jam.
Pada kecepatan ini, hantaman serpihan kecil dapat setara dengan ledakan granat, yang bisa melumpuhkan satelit aktif senilai triliunan rupiah.
Baca Juga: Pink Moon di April 2026, Benarkah Bulan Akan Berwarna Merah Jambu? Ini Jawabannya
Mungkin kita berpikir sampah antariksa tidak berpengaruh pada kehidupan sehari-hari. Nyatanya, dampaknya sangat besar karena manusia sangat bergantung pada satelit
- Komunikasi
Sinyal ponsel dan internet global bergantung pada satelit yang berfungsi baik.
- Navigasi
Tanpa satelit GPS, sistem navigasi pesawat, kapal, hingga ojek online bisa lumpuh.
- Ramalan Cuaca
Peringatan dini bencana seperti badai atau banjir tidak akan akurat tanpa pemantauan satelit.
Teori “Sindrom Kessler”
Para ilmuwan memperingatkan fenomena yang dikenal sebagai Kessler Syndrome.
Kondisi ini terjadi saat kepadatan sampah di orbit bumi terlalu tinggi sehingga satu tabrakan bisa memicu reaksi berantai.
Baca Juga: Aurora 2026 Akan Jadi yang Terindah, Tapi Kenapa Indonesia Selalu 'Absen'? Ini Faktanya
Satu tabrakan menciptakan ribuan serpihan baru yang menabrak satelit lain. Jika ini terjadi, orbit bumi bisa menjadi sangat berbahaya dan bahkan tidak bisa digunakan oleh generasi mendatang.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil