JP Radar Kediri – Belakangan ini, istilah "Godzilla El Nino" ramai diperbincangkan di berbagai kanal berita dan media sosial.
Istilahnya terdengar menyeramkan, seolah ada monster iklim yang sedang menuju Indonesia.
Apa Itu El Nino?
Secara sederhana, El Nino adalah fenomena penyimpangan iklim yang terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur (dekat Amerika Selatan).
Dalam kondisi normal, angin pasat berhembus dari timur ke barat, mendorong air laut hangat menuju wilayah Indonesia.
Hal ini membuat penguapan air laut di Indonesia tinggi, sehingga kita sering mendapatkan banyak hujan.
Baca Juga: Siap-Siap! Godzilla El Nino Ancam Indonesia, Ini Dampak dan Perkiraan Waktunya Menurut BRIN
Namun, saat El Nino terjadi angin pasat yang biasanya membawa air hangat ke Indonesia melemah atau bahkan berbalik arah.
Selain itu, air laut hangat yang seharusnya berkumpul di Indonesia justru bergeser ke arah Pasifik Tengah dan Timur.
Indonesia juga kehilangan potensi hujan dan mengalami musim kemarau yang lebih kering karena air hangat menjauh dari Indonesia, awan-awan hujan pun ikut bergeser menjauh
Mengapa Disebut "Godzilla"?
Istilah "Godzilla El Nino" bukanlah istilah ilmiah resmi dari BMKG atau organisasi meteorologi dunia.
Ini adalah julukan populer (pop culture) yang pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan NASA pada tahun 2015.
Hal ini dikarenakan Skala dan Kekuatannya yang Raksasa. Sebagaimana monster Godzilla yang menghancurkan segalanya, fenomena ini disebut "Godzilla" karena merupakan El Nino kategori Sangat Kuat (Extreme).
Ada tiga hal yang membuat El Nino layak dijuluki "Godzilla":
- Kenaikan suhu permukaan laut di Pasifik sangat tinggi, jauh melampaui ambang batas normal El Nino biasa.
- Mampu mengacaukan pola cuaca di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia.
- Cenderung bertahan lebih lama dan lebih sulit diprediksi kapan akan benar-benar mereda.
Kenapa Tahun 2026 Menjadi Perhatian?
Berdasarkan peringatan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sinyal Godzilla El Nino ini mulai muncul pada April 2026.
Di Indonesia, kekuatannya diprediksi akan berlipat ganda karena bertemu dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif.
Jika El Nino menarik awan ke arah Pasifik (Timur), IOD Positif menghalangi pembentukan awan dari arah Samudra Hindia (Barat).
Indonesia terjepit di tengah-tengah dua fenomena ini, yang mengakibatkan kemarau 2026 diprediksi akan menjadi salah satu yang paling ekstrem dalam sejarah modern kita.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil