JP Radar Kediri- Indonesia diprediksi akan menghadapi musim kemarau yang tidak biasa pada tahun 2026. Selain datang lebih cepat, musim kering kali ini juga berpotensi berlangsung lebih lama akibat fenomena iklim ekstrem yang dikenal dengan sebutan “Godzilla El Nino”.
Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah di Tanah Air diperkirakan mengalami cuaca yang jauh lebih kering dibandingkan biasanya. El Nino dengan intensitas kuat disebut sebagai faktor utama di balik perubahan pola cuaca ini.
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa fenomena ini berpotensi memperpanjang durasi musim kemarau sekaligus mengurangi curah hujan secara signifikan.
"Kondisi ini menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering," ungkap Erma Yulihastin lewat akun resmi Instagram @brin_indonesia, Selasa (24/3).
Baca Juga: Cuaca Ekstrem dan Musim Kemarau 2026: BMKG Ingatkan Potensi Risiko yang Perlu Diwaspadai
Tak hanya itu, kemunculan fenomena lain seperti Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga turut memperparah kondisi. Awan hujan cenderung bergeser ke wilayah lain, sehingga Indonesia justru mengalami penurunan intensitas hujan.
Dampaknya, risiko kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan diperkirakan meningkat di berbagai daerah.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan dimulai lebih awal dari biasanya. Sejumlah wilayah bahkan sudah mulai memasuki periode kering sejak April.
Daerah Terdampak
Beberapa daerah yang diperkirakan lebih dulu terdampak antara lain:
- Pesisir utara Jawa bagian barat
- Pesisir Jawa Tengah
- DI Yogyakarta
- Sebagian Jawa Timur
- Bali
- Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur
- Sebagian Sulawesi Selatan
- Kemudian pada Mei hingga Juni, kondisi kemarau akan meluas ke wilayah lain seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Puncak Kemarau Diprediksi Agustus
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode ini, sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami kondisi paling kering.
Baca Juga: Peringatan BMKG! Kediri Raya Masih Diguyur Hujan Deras di Musim Kemarau, Waspada Pohon Tumbang
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi:
- Sumatera bagian tengah dan selatan
- Jawa bagian tengah hingga timur
- Bali dan Nusa Tenggara
- Sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi
- Maluku dan Papua
Meski demikian, beberapa daerah bisa mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli atau justru mundur hingga September.
Durasi Lebih Panjang dari Biasanya
Tak hanya datang lebih cepat, musim kemarau tahun ini juga diperkirakan berlangsung lebih lama. Sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dari kondisi normal.
Selain itu, sekitar 64,5 persen wilayah diperkirakan akan mengalami curah hujan di bawah rata-rata, yang berarti kondisi kering akan terasa lebih ekstrem.
Dampak ke Kesehatan dan Lingkungan
Kemarau panjang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Suhu panas ekstrem dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari dehidrasi, masalah tekanan darah, hingga risiko penyakit serius seperti stroke dan serangan jantung.
Risiko heat stroke juga meningkat, terutama jika tubuh tidak mendapatkan penanganan yang tepat saat terpapar panas berlebih.
Baca Juga: 5 Tips Jaga Imun Tubuh Menurut Kemenkes, Waspadai Penyakit Pancaroba Akibat Cuaca Tak Menentu
Perlu Antisipasi Sejak Dini
Melihat kondisi ini, masyarakat diimbau untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak sekarang. Mulai dari pengelolaan air yang lebih bijak, menjaga kondisi tubuh, hingga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Fenomena “Godzilla El Nino” menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim semakin nyata. Dengan musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan kering di tahun 2026, kesiapan menjadi hal penting agar dampaknya bisa ditekan semaksimal mungkin.
Editor : Anwar Bahar Basalamah