JP Radar Kediri - Lebaran tidak selalu berakhir di hari pertama Idulfitri. Di beberapa daerah, khususnya di Pulau Jawa, masyarakat masih merayakan momen spesial yang dikenal sebagai Lebaran Ketupat.
Tradisi ini biasanya dilaksanakan satu minggu setelah Hari Raya Idulfitri. Tidak sekadar makan ketupat, perayaan ini memiliki sejarah panjang serta makna filosofis yang mendalam.
Baca Juga: Ragam Tradisi Lebaran di Indonesia: Dari Bakar Gunungan hingga Perang Ketupat
Apa Itu Lebaran Ketupat?
Lebaran Ketupat, atau dikenal sebagai Kupatan atau Syawalan, merupakan tradisi yang biasanya dirayakan sekitar satu minggu setelah Idulfitri.
Perayaan ini menjadi simbol penutup rangkaian ibadah Ramadan dan Syawal, sekaligus momen untuk kembali bersilaturahmi dengan keluarga dan masyarakat sekitar.
Tradisi Lebaran Ketupat diyakini berasal dari masa penyebaran Islam di Pulau Jawa. Salah satu tokoh penting yang dikaitkan dengan tradisi ini adalah Sunan Kalijaga, anggota Wali Songo.
Beliau menggunakan ketupat sebagai media dakwah dengan mengadaptasi budaya lokal yang sudah ada, seperti tradisi selametan. Pendekatan ini membuat ajaran Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat pada masa itu.
Sejak saat itu, ketupat tidak hanya menjadi makanan khas Lebaran, tetapi juga simbol budaya yang terus dilestarikan hingga sekarang.
Baca Juga: Terlalu Banyak Makan Opor dan Rendang? Ini 5 Tips Menjaga Kesehatan Setelah Lebaran
Makna Filosofis Ketupat
Di balik bentuknya yang sederhana, ketupat menyimpan banyak makna simbolis, terutama dalam budaya Jawa.
Salah satu filosofi yang paling dikenal adalah “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Ini selaras dengan tradisi saling memaafkan saat Lebaran.
Selain itu, ketupat mengandung makna filosofis yang mendalam dalam tradisi Lebaran. Anyaman janur yang rumit melambangkan kompleksitas serta keragaman kesalahan manusia dalam interaksi sosial.
Di balik rumitnya anyaman tersebut, bagian dalam ketupat yang berwarna putih bersih menjadi simbol kesucian hati setelah proses saling memaafkan dilakukan.
Sementara itu, penggunaan beras sebagai isi utama ketupat mencerminkan harapan akan kemakmuran dan keberkahan hidup bagi seluruh lapisan masyarakat.
Baca Juga: Ramadan Telah Usai, Bagaimana Menjaga Semangat Ibadah Setelah Lebaran?
Makna Sosial dan Budaya
Lebaran Ketupat bukan hanya tentang makanan, tetapi juga tentang kebersamaan. Masyarakat biasanya membuat ketupat, lalu membagikannya kepada tetangga dan kerabat sebagai bentuk silaturahmi.
Tradisi ini memperkuat hubungan sosial sekaligus menjadi wujud rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa.
Di beberapa daerah, perayaan ini juga diramaikan dengan acara kumpul keluarga, doa bersama, hingga tradisi arak-arakan.
Baca Juga: 5 Tanda Tubuh Sudah Overload Lemak dan Gula yang Sering Diabaikan Saat Asyik Makan Hidangan Lebaran
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita